Page 614 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 614

http://pustaka-indo.blogspot.com
             Menjelang  kematiannya,  dia  berkata:  “Aku  merenungkan
             pikiran  yang  terdalam  dan  spekulatif,  dan  bagiku  semua  itu
             benar-benar  menyatu  dengan  rasa  keagamaan  yang  paling
                  15
             kuat.”   Konsep  tentang  Tuhan  tidak  akan  bermanfaat,
             kecuali  jika  secara  imajinatif  ditransformasikan  melalui
             perasaan dan pengalaman keagamaan pribadi.

             Selama  abad  kesembilan  belas,  satu  demi  satu  filosof
             terkemuka  bangkit  untuk  menentang  pandangan  tradisional
             tentang  Tuhan,  setidaknya  “Tuhan”  yang  dalam  konsepsi
             Barat.  Mereka  terutama  sekali  terusik  oleh  pernyataan
             tentang  tuhan  adialami  “di  luar  sana”  yang  memiliki
             eksistensi objektif. Telah kita saksikan bahwa meskipun ide
             tentang Tuhan sebagai Wujud Tertinggi sedang naik pamor di
             Barat,  tradisi-tradisi  monoteistik  lainnya  telah  meninggalkan
             bentuk  teologi  semacam  ini.  Kaum  Yahudi,  Muslim,  dan
             Kristen   Ortodoks   dengan   caranya    masing-masing
             mengatakan  bahwa  apa  yang  dipikirkan  manusia  tentang
             Tuhan tidak bersesuaian dengan realitas tak terlukiskan yang
             disimbolkan  oleh  pemikiran  itu.  Semuanya  menyiratkan
             bahwa  adalah  lebih  tepat  untuk  melukiskan  Tuhan  dengan
             “Tiada” daripada sebagai Wujud Tertinggi, sebab “dia” tidak
             mengada dengan cara seperti yang kita konsepsikan. Selama
             berabad-abad,  Barat  perlahan-lahan  melupakan  konsepsi
             ketuhanan  yang  lebih  imajinatif  ini.  Orang  Katolik  dan
             Protestan  mulai  memandang  “dia”  sebagai  Wujud  yang
             merupakan realitas tambahan bagi dunia yang kita kenal ini,
             mengawasi aktivitas kita layaknya “Big Brother” dari langit.
             Tidak  mengherankan  jika  pandangan  ini  tidak  bisa  diterima
             kebanyakan orang di dunia pascarevolusi, karena seolaholah
             mengutuk manusia menjadi budak yang hina dan menyiratkan
             kebergantungan  yang  tak  pantas  bagi  martabatnya.  Para
             filosof ateistik abad kesembilan belas memberontak terhadap
             Tuhan  ini  dengan  alasan  yang  bagus.  Kritik  mereka



                            ~607~ (pustaka-indo)
   609   610   611   612   613   614   615   616   617   618   619