Page 616 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 616
http://pustaka-indo.blogspot.com
kembali pandangan monoteistik kuno—yang juga mencirikan
ajaran Kristen dan Islam—bahwa “Tuhan” tidak terpisah
dari realitas duniawi, tetapi terikat erat dengan manusia.
Sebagaimana Blake, Hegel mengungkapkan pandangan ini
secara dialektik. Dia melihat manusia dan Roh, yang terbatas
dan yang tak terbatas, sebagai dua wajah dari satu
kebenaran yang saling bergantung dan terlibat dalam proses
penyadaran diri yang sama. Alih-alih menyenangkan ilah
yang jauh dengan cara menaati hukum yang asing dan tak
dikehendaki, Hegel justru menyatakan bahwa yang ilahi itu
merupakan salah satu dimensi kemanusiaan kita.
Sesungguhnya, pandangan Hegel tentang kenosis Roh, yang
mengosongkan dirinya agar menjadi imanen dan berinkarnasi
di dunia, memiliki banyak kesamaan dengan teologi
Inkarnasional yang telah berkembang di dalam ketiga agama
besar dunia.
Hegel adalah manusia Pencerahan dan Romantik sekaligus,
oleh karena itu dia lebih menghargai akal daripada imajinasi.
Dia secara tanpa sadar menggemakan kembali pandangan
masa silam. Seperti para faylasuf, dia memandang akal dan
filsafat lebih tinggi daripada agama yang terpaku pada mode
pemikiran representasional. Sebagaimana para faylasuf pun
dia menarik kesimpulannya tentang Yang Mutlak dari cara
kerja pikiran individual, yang menurutnya didapat dari proses
dialektikal yang mencerminkan keseluruhan.
Filsafat Hegel terasa terlalu optimistik bagi Arthur
Schopenhauer (1788-1860), yang secara menantang
menetapkan jadwal kuliah-kuliahnya pada waktu yang
bersamaan dengan kuliah-kuliah Hegel di Berlin pada 1819,
tahun penerbitan bukunya The World as Will and Idea.
Schopenhauer yakin bahwa Yang Mutlak itu tidak ada, tak
ada Akal, tak ada Tuhan, tak ada Roh yang mengatur di
~609~ (pustaka-indo)

