Page 611 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 611
http://pustaka-indo.blogspot.com
autonom di dunianya sendiri yang menuntut manusia untuk
tunduk pada aturan yang dipaksakan dari luar. Tak ada
aktivitas manusia yang terlepas dari Tuhan; bahkan
seksualitas yang dikekang oleh gereja termanifestasi di dalam
Yesus sendiri. Tuhan mati secara sukarela di dalam Yesus
bukan lagi Tuhan yang transenden dan mengalienasikan.
Ketika kematian Tuhan telah sempurna, Tuhan Berwajah
Manusia akan muncul:
Yesus berkata: “Maukah engkau mencintai orang
yang tak pernah mati
Demi dirimu, atau mati demi orang yang belum
pernah mati demi dirimu?”
Dan jika Tuhan tidak mati demi Manusia dan
tidak mempersembahkan
Dirinya secara abadi demi Manusia, Manusia
tidak bisa mengada; karena Manusia adalah
Cinta
Sebagaimana Tuhan adalah Cinta: setiap
kebaikan terhadap yang lain adalah Kematian
kecil
Di dalam citra Tuhan, Manusia pun tak bisa
mengada kecuali berkat persaudaraan. 11
Blake memberontak terhadap gereja-gereja institusional,
tetapi sebagian teolog berusaha memasukkan visi aliran
Romantik ke dalam Kristen resmi. Mereka juga tidak bisa
menerima ide tentang Tuhan yang transenden dan jauh,
sebaliknya justru menekankan pentingnya pengalaman
religius yang subjektif. Pada 1799, setahun setelah
Wordsworth dan Coleridge menerbitkan Lyrical Ballads di
Inggris, Friedrich Schleiermacher (1768-1834) menerbitkan
manifesto Romantiknya, On Religion, Speeches to its
Cultural Despisers, di Jerman. Dogma bukanlah fakta
ketuhanan, melainkan sekadar “penjelasan tentang rasa
keberagamaan Kristen yang dituturkan dalam kata-kata”. 12
~604~ (pustaka-indo)

