Page 121 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 121
D i koran-koran, radio, dan televisi kita sering mendengar-
kan paparan manis tentang otonomi sekolah dan otonomi
guru sebagai bentuk nyata reformasi pendidikan. Kata itu meng-
andung pengertian, para guru diberi kevvenangan untuk menen-
tukan jenis materi yang akan diberikan, buku pegangan yang
akan dipakai, metode pengajaran yang akan digunakan, alat
evaluasi yang akan diterapkan, bahkan membuat maju mundur-
nya sekolah. Beberapa kali penulis mendengarkan langsung
paparan dari para pejabat Departemen Pendidikan Nasional,
seperti Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Indra Jati Sidhi
dan Pusat Kurikulum Iskandar. Setiap kali mendengarkan pa-
paran mereka secara langsung, dunia ini terasa indah karena
praksis pendidikan nasional begitu terbuka, demokratis, dan
akuntabel.
Pidato para pejabat Departemen Pendidikan Nasional itu
seakan merupakan antitesis kebijakan pendidikan masa lalu,
yang mengekang guru maupun sekolah dengan pengawasan
yang begitu ketat. Ibaratnya, guru saat itu merupakan sekrup-
sekrup mati yang tinggal digerak-gerakan sesuai keinginan
birokrasi pendidikan dari pusat. Mereka hanya berani bekerja
berdasarkan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis
(juknis) yang ada. Akibatnya, saat itu tidak pernah muncul ini-

