Page 50 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 50
dapat berharap pendidikan dapat menjadi landasan utama untuk
melakukan reformasi secara nyata dan menyeluruh atau meng-
embalikan martabat bangsa yang berbudaya. Sebaliknya, bila
pendidikan tetap diintervensi oleh kekuasaan, ideologi, dan aga-
ma seperti masa Orde Baru hingga sekarang, maka kita semua
patut bersedih, sebab dengan demikian tidak akan terjadi refor-
masi secara nyata dan menyeluruh kecuali sebatas pergantian
pejabat, tapi tidak mengubah mentalitas birokrasi dan masya-
rakat.
Persoalannya sekarang, apakah Menteri Pendidikan Nasio-
nal yang baru cukup memiliki kemampuan dan otoritas moral
untuk menjalankan reformasi dalam pendidikan? Penulis ter-
masuk orang yang pesimis akan terjadinya reformasi dalam
dunia pendidikan, mengingat dua alasan pokok. Pertama, budaya
di lingkungan Departemen Pendidikan yang korup dan tertutup
bagi perubahan sudah berlangsung bertahun-tahun sehingga
sulit diubah dalam waktu singkat. Kedua, orang yang mengen-
dalikan departemen itu (Menteri Pendidikan) dipilih bukan ber-
dasarkan kemampuan dan otoritasnya, tapi lebih pada kepenti-
ngan politik tertentu (yang kita semua tidak tahu).
Jabatan menteri selama ini memang merupakan jabatan poli-
tis, bukan karir atau profesional. Karena itu, pilihan seseorang
untuk menduduki jabatan menteri bukan didasarkan pada kom-
petensi dan profesionalitas, tapi lebih pada pilihan politis. Hal
ini terutama tampak sekali pada masa Orde Baru. Untuk seka-
rang dan yang akan datang, faktor kompetensi dan profesionali-
tas hendaknya yang harus dominan. Sebab, bila titik beratnya
pada pertimbangan politis, maka hanya menyulitkan kerja men-
teri itu sendiri dan merusak iklim kerja di departemen, karena
orang tidak termotivasi untuk berprestasi.
Penulis hanya khawatir, pendidikan pada masa yang akan
datang formulasinya menjadi sangat moralistik, tapi dalam prak-
tiknya justru menyumbang besar terjadinya konflik horizontal
akibat kekeliruan dalam menanamkan nilai-nilai kepada murid.

