Page 67 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 67

stansial,  lebih baik tidak usah reformasi ganti  nama,  karena  tidak
             ada maknanya bagi masyarakat.    Ironisnya,  reformasi  ganti nama
             itu semua terjadi  pada  masa  Menteri  Pendidikan  Nasional dijabat
             oleh  Malik  Fajar, yang  pada awal  menjabat sebagai  Menteri  Pen-
             didikan  banyak  diharapkan  akan  memberikan   angin  segar  pada
             dunia  pendidikan,  mengingat  ia  berasal  dari  kampus.
                  Masih  terkait  dengan  masalah evaluasi, yang  membuktikan
             bahwa  reformasi  pendidikan  itu  hanya  retorika saja, adalah  kasus
             "Ebtanas  gratis".  Di  koran-koran,  di  radio,  dan  televisi  para
             pejabat  Departemen   Pendidikan   Nasional  selalu  menyatakan
             bahwa  "Pelaksanaan   Ebtanas  gratis.  Sekolah  vang  tetap  memu-
             ngut  biaya  Ebtanas  akan  ditindak."

                  Betulkah biaya Ebtanas  gratis? Tidak. Sebab,  para  guru  sen-
             diri  menyatakan,  "Tidak  rasional  bila  Ebtanas  gratis,  kecuali
             pengawas   dan  korektor  tidak  dibayar."  Dan  ketika  para  orang
             tua  complain  pada  sekolah  yang  tetap  memungut  biaya  Ebtanas,
             jawaban  pihak sekolah  enteng saja:  "Gratis  itu  kan  di  koran.  Ya,
             silakan  bapak/ibu  minta  koran sana!" Jawaban  pengelola sekolah
             semacam   itu  sempat  membuat  para  orang  tua  wali  murid  kebi-
             ngungan:  Mana yang harus dipercaya? Membaca koran dan maja-
             lah,  mendengarkan   radio  dan  televisi,  Menteri  Pendidikan  dan
             Dirjen  Pendidikan  Dasar dan  Menengah  selalu  menyatakan  bah-
             wa  "pelaksanaan  Ebtanas  gratis",  tapi  yang  terjadi  di  lapangan,
             pihak  sekolah  memungut   biaya  Ebtanas.

                  Kasus  Ebtanas  merupakan    bukti  tidak  nyambung-nya  kebi-
             jakan  di  atas  dengan  kenyataan  di  lapangan.  Umumnya,  kebi-
             jakan-kebijakan yang diambil  para pejabat hanya didasarkan pada
             kepentingan   politik,  agar  tampak  baik,  reformis,  populis.  Tapi
             di  lapangan  mereka  tetap  menjalankan  praktik-praktik  seperti
             pada  masa  Orde  Baru,  yang  menindas,  korup,  kolusi,  dan  me-
             manipulasi  untuk  kepentingan  politiknya.

                  Sulit  melacak,  di  mana  akar  masalah  tidak  nyambung-nya
             komunikasi    antarpejabat  pendidikan   di  pusat  dengan  para
             pejabat  di  daerah.  Tapi  kemungkinan  besar,  karena  pejabat  di
   62   63   64   65   66   67   68   69   70   71   72