Page 64 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 64

harapkan   mencampur persaksiannya    dengan   pendapat,  komen-
              tar, dan ekspresi emosional, yang semuanya  tidak relevan dengan
              cerita  kejadiannya.  Demi  tujuan  objektivitas  tersebut,  penentu
              materi  dan  penulis  buku  sejarah  sebaiknya  sejarawan   yang
              memang    memiliki  kompetensi  dalam  bidangnya.

                   I lal yang berbeda akan terjadi  bila penentu  materi dan penu-
              lis  buku  sejarah adalah seorang penguasa atau  korp militer.  Pasti
              yang  muncul,  seperti  dilukiskan  Napoleon,  bahwa  sejarah  ada-
              lah  kebohongan   yang  disetujui.  Atau  seperti  diungkap  oleh
              Carlyle,  bahwa  sejarah  hanyalah  tumpukan  debu  saja.  Bahkan
              lebih  keras  lagi,  seperti  digambarkan  oleh  Paul  Valery,  bahwa
              sejarah  merupakan   produk  paling  berbahaya  dari  proses  kimia
              dalam  intelek  manusia.

                   Reformasi  materi  pelajaran  itu  juga  mestinya  menyentuh
              pelajaran  Pendidikan  Pancasila  dan  Kewarganegaraan   (PPKN).
              PPKN, yang diperkenalkan dalam Kurikulum 1994, adalah penjel-
              maan   dari  pelajaran  Pendidikan  Moral  Pancasila  (PMP)  yang
              diberikan  sejak  1976.

                   Selama  Orde  Baru,  materi  PMP  atau  PPKN  lebih  terfokus
              sebagai  media  indoktrinasi  ideologi  Pancasila.  Oleh  sebab  itu,
              pelaksanaan  materi  pelajaran  ini  disertai  pemberian  materi  pena-
              taran  mengenai   P4  (Pedoman   Pengalaman    dan  Penghayatan
              Pancasila) yang wajib diikuti oleh anak-anak dari usia SD sampai
              PT.  Semua  yang  dapat  berpikir  kritis  mengetahui  bahwa  materi
              ini sangat  ideologis, sehingga aspek  ideologisnya jauh  lebih  besar
              daripada  penguasaan   pengetahuannya.

                   Sesuai  dengan  tuntutan  demokratisasi  yang  menghendaki
              penghargaan   hak-hak  asasi  manusia  (HAM),  maka   materi  pel-
              ajaran seperti  yang ada  pada PMP atau  PPKN  selama  masa Orde
              Baru,  dirasakan  tidak  tepat  lagi.  Materi  itu  harus  disesuaikan
              dengan   kebutuhan  masa  sekarang.  Bila  kebutuhan  masyarakat
              sekarang adalah  keinginan  untuk  mengetahui  hak-haknya   seba-
              gai  warga  negara,  maka  materi  yang  memberikan  pengetahuan
              tentang  hak-hak  sebagai  warga  negara,  dan  yang  memberikan
   59   60   61   62   63   64   65   66   67   68   69