Page 384 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 384
Nyai Ruqayyah | Juru Dakwah Pembela Kaum Perempuan
menikah lagi ada Januari 1999.
Tapi sayang, “untung tak dapat diraih, malang tak dapat dito-
lak”, barangkali peribahasa ini yang cocok untuk menggm-
barkan perasaan Ruqayyah. Pernikahan yang didambakan bisa
menjadi penyemangat dakwah dan perjuangan umat, ternyata
pupus. Hampir setiap hari rumah tangganya dirundung masalah.
Ia mengaku sering mengalami pertengkaran dan tindakan ke-
kerasan dari suaminya. Tidak hanya itu, sang suami melarang-
nya berdakwah, bahkan sekadar mengisi majlis ta’lim. Saat itu
Ruqayyah sudah menjabat sebagai Ketua Fatayat Cabang Bon-
dowoso Periode 1996-1999.
Bangkit dari Keterpurukan
Meski di bawah tekanan dan sering mendapatkan perlakuan ku-
rang mengenakkan dari sang suami, ia tetap tampil ceria di depan
publik, sehingga masyarakat tidak tahu-menahu masalah berat
yang sedang dipikulnya. Konflik keluarganya memuncak saat ia
mendampingi sang suami untuk hijrah ke Jakarta setelah terpilih
menjadi anggota DPR RI periode 1999-2004. Di tengah-tengah
keruwetan rumah tangganya, tiba-tiba Kiai Sufyan berkunjung
ke Jakarta menemuinya, seraya menasihatinya, “Dhika tadek la-
kona e diye” (Kamu tidak ada kerjaan di sini).
Esok harinya, kata-kata itu semakin terngiang-ngiang di kepa-
la Ruqayyah, seakan-akan setiap sudut rumah tertulis ucapan
Kiai Sufyan. Pernyataan singkat sang kiai seolah-olah member-
ikan isyarat bahwa sebaiknya ia segera mengakhiri penderitaan
yang selama ini mendera dirinya. Sebagai pertimbangan, ia lalu
bermusyawarah dengan keluarga dan teman-teman akrabnya.
Semuanya mendukung keputusan Ruqayyah untuk firaq (cerai).
Apalagi jika niatnya untuk memberikan pelajaran bagi kaum
| 370

