Page 386 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 386
Nyai Ruqayyah | Juru Dakwah Pembela Kaum Perempuan
Ruqayyah juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk me-
nepis label terorisme pada agama Islam yang sedang melanda
masyarakat Barat. Dirinya yang memang dilahirkan dan dibe-
sarkan di lingkungan pesantren, merasa memiliki pengetahuan
komprehensif tentang wajah ramah Islam yang juga harus dise-
barluaskan.
Ada satu pengalaman menarik saat Ruqayyah mengikuti short
course, ia yang sejak awal termasuk paling aktif berdiskusi ter-
pilih untuk mepresentasikan tugasnya karena dianggap paling
bagus. Ia pun melakukan presentasi dengan apik dan mampu
memukau para peserta lain. Pembimbing diskusi yang saat itu
mendampinginya berkelakar bahwa hasil tugasnya akan dia-
badikan di Museum Amerika. Sontak para peserta menyambut
dengan tepuk tangan yang meriah. “Wah, kita kalah sama lulu-
san SD!” celetuk salah seorang teman diskusinya yang mengun-
dang kagum.
Nyai Ruqayyah memang hanya lulusan SD, sementara
kawan-kawannya bergelar sarjana, magister, bahkan juga dok-
tor. Bisa dibilang kegiatan tersebut adalah titik tolak Ruqayyah
untuk membangkitkan semangat dalam memulai hidup baru.
Minimnya pendidikan terhadap perempuan melahirkan masalah
baru, yaitu lemahnya posisi tawar (bargaining position) perem-
puan secara structural. Banyak terjadinya pelecehan seksual,
hingga maraknya Kekerasan dalam Rumat Tangga (KDRT).
Maka untuk menjawab persoalan tersebut, sepulang dari negeri
Paman Sam, Ruqayyah berinisiatif mendirikan sebuah lemba-
ga pesantren khusus untuk perempuan. Lembaga ini kemudian
diberi nama Pondok Pesantren Al Ma’shumi yang dinisbatkan
kepada nama sang ayah.
Pesantren putri ini adalah satu-satunya lembaga pendidikan
| 372

