Page 449 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 449
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
Suran Tegalrejo bertujuan memakmurkan dan memasyarakat-
kan tradisi pesantren dan nilai-nilainya kepada semua kalangan
tanpa membedakan suku, agama, dan golongan. Khazanah pe-
santren yang selama ini hanya bisa diakses oleh santri-santri di
dalam pesantren, melalui Suran Tegalrejo ini, penyelenggara
ingin mendedikasikan kepada semua warga tanpa sekat-sekat
primordial. Sebab kedalaman nilai-nilai yang diajarkan di pe-
santren mempunyai manfaat bagi kemajuan dan keharmonisan
hidup bermasyarakat. Nilai-nilai itu adalah keberagaman, meng-
hargai perbedaan, keadilan, kejujuran, solidaritas, dan kemanu-
siaan. Dalam konteks inilah Yusuf mempunyai dorongan untuk
ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan kebudayaan.
“Budaya itu menjadi sarana silaturahim, mempertemukan mas-
yarakat. Itu yang pertama. Yang kedua, tentu menjadi sarana
dakwah bagi kita,” kata Yusuf yang sering memakai sarung dan
peci hitam dalam aktivitas sehari-hari.
Selain dorongan untuk memasyarakatkan nilai-nilai kebudayaan
dan sosial keagamaan, pergulatannya dalam kegiatan-kegia-
tan kebudayaan merupakan upaya meneruskan tradisi berbaur
dengan masyarakat lintas budaya yang sudah bertahun-tahun
diselenggarakan oleh kakaknya, Gus Muh (Kiai Ahmad Mu-
hammad, putra kedua almarhum KH. Chuldori). Ritual tahu-
nan ini digelar oleh Gus Muh setiap bulan Sya’ban dengan ta-
juk Pawiyatan Budaya Adat (PBA). Sementara KH. Chudlori,
ayahnya, dikenal sebagai kyai pesantren yang dekat dengan ke-
budayaan-kebudayaan lokal.
“Mas Muh sering bilang begini: Monggo jenengan mirsani ke-
toprak, mirsani wayang, tapi ojolali ne’ mirsani karo moco alfa-
tihah. Monggo do main ketoprak’an, do wayangan, do jantilan.
Niku mangkih mugi pikantuk pituduh. Oro do wayangan neng
| 435

