Page 452 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 452
KH. Yusuf Chudlari | Pendekatan Kultural dan Kewirausahaan Gus Yusuf
sama-sama orang Indonesia. Kedua, bertujuan agar masyarakat
juga memahami bahwa asrama perguruan di Tegalrejo tersebut
adalah untuk mendidik para guru ngaji.
“Dari visi-misinya jelas, bahwa iki pondok arep nyetak guru (ini
pondok mau menyetak guru, pen.). Dari nama Asrama Pergu-
ruan Islam, sangat Nasionalis lah. Namanya saja tidak ada bau
Arab-nya, kan?” jelas Yusuf.
Generasi Santri Memihak Petani
Sementara itu, pada hari Jumat yang di tempat yang berbeda,
arloji di tangan menunjukkan pukul 13.30 WIB di kompleks
Pondok pesantren Syubbanul Wathon, Girikulon, Secang,
Magelang, Yusuf berjalan menuju pendopo. Terlihat di dalam
bangunan model joglo seluas 150 meter persegi itu lima kelom-
pok kecil, terdiri orang tua dan anak-anak santri. Mereka sedang
berbincang-bincang sambil duduk-duduk dan tiduran santai
mengelilingi makanan ringan dan minuman. Kelompok keluar-
ga atau orangtua yang sedang menemui anaknya (sambangan)
yang nyantri di pondok pesantren khusus pertanian ini.
Melihat Yusuf datang, mereka berdiri dan bersalaman. Setelah
semua orangtua dan santri bersalaman, di pojok joglo dekat
tiang Gus Yusuf duduk bersila. Spontan kelima kelompok kecil
itu mendekat dan bergabung menjadi satu di mana Gus Yusuf
duduk di atas alas kain.
“Pripun, Pak. Putranipun sami krasan, to?(Bagaimana, Pak. Pu-
tranya kerasan, kan?),” tanya Gus Yusuf.
“Alhamdulillah, Gus. Pangestunipun. Nyuwun tambah pendun-
ga mugi krasan lan sregep anggenipun sinau ing mriki (Alham-
| 438

