Page 450 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 450
KH. Yusuf Chudlari | Pendekatan Kultural dan Kewirausahaan Gus Yusuf
yo ojo lali salat, oro do njantil ning yo do gelem ibadah.” (Silah-
kan Anda melihat pentas ketoprak, nonton wayang, tapi jangan
lupa kalau nonton sambil baca alfatihah. Silahkan main keto-
prak, wayang, jathilan. Semoga nanti mendapatkan petunjuk. Si-
lahkan saja main wayang tapi jangan lupa shalat, main jathilan
silahkan tapi juga harus mau beribadah). Demikian Yusuf me-
nirukan petuah kakaknya. Dari metode dakwah yang diajarkan
keluarganya itu, banyak anak-anak tukang wayang, tukang ke-
toprak, tukang jathilan, akhirnya dipondokkan di Tegalrejo. “Itu
yang saya rawat sampai hari ini. Saya tinggal meneruskan saja
tinggalan-tinggalan para sesepuh zaman dulu itu,” cerita Yusuf
tentang Gus Muh.
Kedekatan Yusuf dengan komunitas-komunitas budaya merupa-
kan kelanjutan dari semangat berkebudayaan dari sang ayah, KH
Chudlori. Secara sosiologis, ketokohan para pengasuh Pesantren
Tegalrejo, berbaur dengan masyarakat merupakan tradisi yang
berakar panjang sejak berdirinya pesantren ini. Bahkan di kemu-
dian hari, tahun 2003, Yusuf secara khusus mengorganisasikan
pemuda-pemuda dalam wadah Komganaz (Komunitas Gerakan
Anti Narkoba dan Zat Adiktif).
Gus Yusuf, mahasiswa, dan dosen STAIN ngaji pengajian kitab Ta’lim al-Muta’allim li al-Ta’allum karya
Burhanuddin Zarnuji di Pesantren Enterprenerusip Syubbanul Wathon, Meteseh, Tempuran, Magelang.
September 2017.
| 436

