Page 259 - Cooperative Learning
P. 259
Implementasi Cooperative Learning di Tingkat Sekolah Dasar 249
keberadaan bahasa Inggris di Sekolah Dasar tergantung dari
kebijikan masing-masing sekolah.
Pengajaran bahasa Inggris merupakan tantangan tersendiri
bagi guru yang bersangkutan, dimana bahasa Inggris dalam
kehidupan sehari-hari jarang digunakan. Terlebih di Indonesia,
bahasa Inggris berkedudukan sebagai bahasa Asing. Selain itu,
mengenai dinamika pembelajaran dikelas adalah hal lebih
menantang lagi, seperti tingkat kemampuan siswa, latar belakang
sosial, budaya, dan lain sebagainya adalah suatu kenyataan di dunia
pendidikan yang harus di hadapi. Kemudian, jumlah siswa dalam
kelas juga menuntut guru untuk lebih berusaha menggunakan
berbagaimetode yang tepat agar tujuan pembelajaran tercapai.
Pembeljaran kooperatif (cooperative learning) merupakan
salah satu metode yang bisa digunakan guru di dalam
pembelajaran, termasuk pada mata pelajaran bahasa Inggris.
Cooperative learning adalah aktivitas pembelajaran kelompok
sehingga pembelajaran berlangsung dengan cara saling melengkapi
diantara anggota kelompok dimana masing-masing siswa dibebani
tanggungjawab pada belajar secara mandiri dan dimotivasi untuk
meningkatkan pemahaman bersama anggota kelompok (Osean dan
Kagan 1992 dalam Richards dan Rodgers 2001). Metode ini bisa
menjadi alternatif yang bisa diimplimentasikan oleh guru dalam
pengajaran bahasa Inggris, dalam hal ini proses belajar mengajar
lebih menekankan pada student-centered. Kemudian siswa akan
lebih leluasa dalam pengembangan pengetahuan dengan saling
berbagi antar siswa. Disamping itu ada beberapa pembelajaran
bahasa Inggris yang memang menuntut siswa tidak bisa melakukan
aktifitas secara individu, seperti contohnya berdialog, bermain
peran, permainan-permainan pembelajaran tertentu yang
membutuhkan anggota lebih dari satu, dan lain sebagainya. Selain
alasan yang telah ditulis sebelumnya, pentingnya pembelajaran
kooperatif adalah untuk memudahkan guru mengkondisiskan kelas
yang ia ajarkan. Kalau berpatokan kepada peraturan menteri jumlah
ideal siswa satu kelas tidak lebih dari 32 orang (Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2013). Kenyataan
dilapangan jumlah siswa jauh dari kata ideal, terutama sekolah-

