Page 180 - Sun Flower Full Naskah
P. 180

Kyung-Shin sedikit menyesalkan tindakannya yang
          dulu menjauh dari keluarga, sekarang ia tak banyak tahu ten-
          tang Ray. Adiknya juga menjalankan bisnis seperti Kyung-Shin,
          tapi seolah Ray jauh lebih sibuk darinya.
                 Turun dari mobil, sekarang Park Kyung-Shin berada di
          area pemakaman. Ia akan mengunjungi kedua orangtuanya dan
          ingin meminta maaf berkali-kali karena pernah membantah per-
          intah Ayah. Ia sangat merasa bersalah, Kyung-Shin benar-benar
          menyesal.
                 Masih berdiri tak  jauh dari mobil, Park  Kyung-Shin
          melihat Ray berada diantara makam kedua orangtua mereka.
          Kyung-Shin tersenyum karena tadi di telepon Ray mengatakan
          sibuk. Ia beranjak menghampiri adiknya tetapi langkahnya ter-
          henti.
                 Di sana Ray gusar merutuki diri, matanya memerah, ia
          menangis. Setelan serba hitam yang dipakai Ray menyentuh re-
          rumputan, ia terduduk. Rambutnya disisir rapi menampakkan
          wajah tampannya yang berkarisma. Tak terasa airmata Kyung-
          Shin jatuh, ia kembali ke mobil, mengurungkan niatnya untuk
          menghampiri Ray. Kelak jika Ray sudah pergi barulah ia akan
          ke sana.
                 “Kau tidak tampan lagi jika  menangis  seperti itu,”
          kata Kyung-Shin pada Ray dari jauh. Ia kembali melihat Ray
          menangis setelah belasan tahun yang lalu. Saat itu Ray menangis
          karena dimarahi Ayah. Memang, sosok Ayah Park Kyung-Shin
          adalah orang yang tegas dalam mendidik anak-anaknya, dan
          karena itulah juga Kyung-Shin  pergi, ia tak tahan diatur dan
          dikekang. Tapi bagi Kyung-Shin, Ray sangat hebat bisa bertah-
          an dalam keadaan itu. Bahkan, Ray tumbuh menjadi seseorang
          seperti yang diharapkan Ayah mereka. Kyung-Shin tahu karena
          dulu Ayahnya selalu membanggakan Ray.
                 Dari jauh Park Kyung-Shin melihat Ray berjalan menu-
          ju mobil, namun adiknya itu berhenti sebelum membuka pintu
          mobilnya. Ia memegang ponsel seperti tengah mengetik pesan.
          Sejenak kemudian ponsel Park Kyung-Shin  berdering, pesan
          dari  Ray. “Hyung,  Ayah  tidak memproduksi  senjata.  Jangan
          mengira hal seperti itu dilakukan oleh Ayah.”

                                     174
   175   176   177   178   179   180   181   182   183   184   185