Page 181 - Sun Flower Full Naskah
P. 181

Kyung-Shin terkejut membacanya, ia keluar dan akan
          menanyakan langsung pada Ray, tetapi adiknya telah masuk ke
          mobil dan pergi. Menggantunglah banyak pertanyaan di benak
          Park Kyung-Shin, namun ia ingin mempercayai adiknya, dan se-
          karang ia harus meminta maaf pada Ayahnya.


                                     ***

                 Hae-Seol benar-benar takjub  saat memasuki restoran,
          di sana sangat nyaman dan alunan musik klasik yang terden-
          gar juga menenangkan. Ada piano yang berwarna putih, sejenak
          Hae-Seol teringat lagi mimpinya, seperti café yang dimiliki Kang
          Ji-Woo  di  dalam  mimpi  Hae-Seol.  Ada  piano  dengan  interior
          restoran yang elegan.
                 “Jeogiyo …”  Hae-Seol  memanggil  pelayan dan  meme-
                       1
          san sate. Ia harus membayar rindunya pada makanan yang su-
          dah lama tak dicicipi sejak ia di Korea. Beberapa menit setelah
          menunggu, rindunya pun terbayarkan.
                 Hae-Seol masih menerka-nerka kejadian kemarin, ia ma-
          sih tak habis pikir kenapa penjahat itu ingin sekali melenyapkan
          nyawanya? Ray juga tak menjawab jika Hae-Seol menanyakan
          itu.
                 “Hae-Seol…” ia masih menikmati sate saat seseorang
          memanggilnya, Hae-Seol melihat ada Bunda. Di samping Bun-
          da, Hae-Seol mengira itu adalah manajer restoran, dan seorang
          lagi di samping Bunda, Hae-Seol tak mengenalnya. Seseorang
          itu sangat cantik, rambut panjangnya yang bergelombang di ba-
          gian bawah dibiarkan tergerai indah, pakaiannya rapi dan Hae-
          Seol tahu perempuan itu mengenakan pakaian yang didesain
          Bunda.
                 Hae-Seol juga tak ingin kehilangan pesona, ia melepas
          jaketnya lalu menghampiri Bunda. “Annyeong haseyo Bunda…”
          Hae-Seol yang tampak akrab dengan Bunda sempat membuat
          gadis tadi mengerutkan kening, terlebih lagi mendengar pang-
          gilan asing ‘Bunda’.
                 “Kim  Tae-Yoon,”  gadis  itu sedikit membungkuk lalu
          1 permisi -memanggil pelayan restoran-
                                      175
   176   177   178   179   180   181   182   183   184   185   186