Page 186 - Sun Flower Full Naskah
P. 186

saat mengucapkan namanya. Oh astaga! Ray sudah pergi dan
          Hae-Seol harus menuntaskan rasa penasarannya, ia menele-
          pon Ray. “Berhenti!” kata Hae-Seol. “Kembali ke sini!” katanya
          kemudian.
                 Ray sudah ada di depan Hae-Seol lagi, dan ia benar-be-
          nar harus bertanya  sekarang. “Darimana kau  tahu  namaku?”
          tanya Hae-Seol, tapi Ray masih diam dan setelah berpikir ia
          menjawab, “Nama? Tadi aku menyebutmu Hae-Seol.”
                 “Bukan! Tadi kau memanggilku Hazelia. Darimana kau
          tahu nama asliku?”
                 Ray tertawa, iya! Sekarang ia tertawa. Hae-Seol tak bisa
          benar-benar menyembunyikan identitasnya, untung saja ia ber-
          hadapan dengan Ray yang memang sudah tahu semua tentang
          itu. Bagaimana Ray tidak tertawa kalau Hae-Seol dengan san-
          gat jelas menanyakan; darimana kau tahu nama asliku? Jika saja
          orang hanya memancing untuk mengungkapkan nama aslinya,
          sekarang akan menjadi percaya karena mendengar pertanyaan
          gadis itu.
                 Hae-Seol yang semula bertanya dengan nada kesal seka-
          rang takjub, ia sangat familiar dengan tawa itu. Dadanya seperti
          dipukul lagi, mimpinya kembali jelas terlintas. Ia baru saja me-
          lihat Ray tertawa. Mimpinya hidup lagi. Sekarang Hae-Seol tak
          tahu harus mengatakan apa, ia bahagia, tapi kenapa airmatanya
          jatuh?
                 “Hae-Seol…” wajah Ray sudah kembali normal saat me-
          lihat airmata yang menetes dari sudut sepasang mata indah mi-
          lik Hae-Seol. Ia takut tawanya tadi menyakiti gadis itu, ia takut
          gadis itu merasa diremehkan, sebab Hae-Seol adalah perempuan
          tangguh dan ia tak suka ada orang lain yang meremehkannya.
          “Apa aku membuatmu sedih? Apa sekarang aku harus memara-
          hi diriku sendiri?”
                 “Ah!  Ada  apa denganku?” Hae-Seol  mengusap air-
          matanya. “Kau pulang saja, tapi tolong jaga rahasiaku,” Hae-Seol
          sudah  tersenyum  sekarang, tetapi Ray  masih  digeluti banyak
          pertanyaan. Tadi Hae-Seol bahkan belum menjawab pertanyaan
          tentang alasan Hae-Seol memanggilnya Ray.
                 “Mungkin  sebaiknya  aku  memang  harus  pergi.  Kelak  akan

                                     180
   181   182   183   184   185   186   187   188   189   190   191