Page 237 - Sun Flower Full Naskah
P. 237

“Bukan, tapi di mimpi,” Hae-Seol tersenyum saat Ray
          mengira ia pernah melihat Ray saat masih kecil. “Kau tahu kan?
          Hari kecelakaan kedua orangtua So-Ra dan Ji-Woo Oppa? Saat
          itu aku juga mengalami kecelakaan,” Hae-Seol mengawali cerita
          dari sana, kelak mungkin ia juga akan bercerita pada Kang Ji-
          Woo.
                 “Terus? Apa hubungannya dengan mimpi?”
                 “Setelah kecelakaan itu aku mengalami koma, hampir
          dua minggu.” Mata gadis itu berkaca-kaca, ia ingat bagaimana
          hangatnya perasaan itu. Ia ingat bahwa ia adalah seorang maha-
          siswa sastra Korea. Ia bekerja part time di sebuah stasiun televisi
          swasta bersama Ray. Ia pengagum Kang Ji-Woo yang mendapat
          kesempatan bermain film bersama Kang Ji-Woo dan Ray. Hae-
          Seol mengingat semuanya. Bahkan ia ingat rasa permen jeruk
          yang diberikan Kang Ji-Woo dalam  mimpinya, sangat man-
          is. Permen jeruk yang ia makan saat itu sangat manis. Namun
          segera Hae-Seol juga ingat saat terbangun dari koma dan men-
          yadari semuanya hanya mimpi. Harus ia pertegas lagi, hanya
          mimpi.
                 “Jadi, aku ada di mimpimu?”
                 “Iya. Tapi kau dua tahun di bawahku. Jadi, kau me-
          manggilku Nuna,” Hae-Seol melanjutkan ceritanya. Ia juga in-
          gat seluruh ekspresi Ray di mimpinya, bagaimana Ray tertawa,
          cemberut, kesal atau ketika ia mengatakan lelucon. Dan gayanya
          sangat trendi. Gadis-gadis akan terpana saat melihat Ray jogging
          atau fitness, tentu Hae-Seol tahu sebab di mimpinya ia dan Ray
          pernah berolahraga bersama. Ia mengingat mimpi  itu dengan
          jelas kecuali akhir dari naskah yang diberikan Kim Tae-Jin. Hae-
          Seol tak mengingatnya meski di mimpi ia membaca itu sampai
          selesai. Tanpa terasa airmata Hae-Seol jatuh.
                 “Jangan menangis, ini! Aku membawa permen kesu-
          kaanmu,” Seolah Ray benar-benar ingin menghidupkan cerita
          Hae-Seol, ia mengambil permen jeruk yang diberikan Ray, dan
          permen itu juga terasa manis.
                 “Kau suka permen?” tanya Hae-Seol, sebab yang ia tahu
          hanya Kang Ji-Woo yang memang menyukai permen.
                 “Kami bertiga memang suka permen,” kata Ray, tentu

                                      231
   232   233   234   235   236   237   238   239   240   241   242