Page 238 - Sun Flower Full Naskah
P. 238
saja yang ia maksud adalah Park Kyung-Shin dan juga Kang Ji-
Woo.
“Kau suka permen rasa apa?” Hae-Seol menanyakan hal
yang sama seperti di mimpinya. Tapi sekarang pertanyaan itu
tertuju pada Ray, bukan Kang Ji-Woo.
“Semua rasa,” kata Ray singkat. “Selagi permennya ti-
dak pahit, kami suka,” sambungnya, ada kata kami di kalimat
Ray, itu berarti ia masih menyebutkan Kyung-Shin dan Ji-Woo.
“Kau kenapa suka rasa jeruk?” tanya Ray.
“Karena kalau aku sedang bahagia rasanya jadi manis,
tapi kalau aku sedih rasanya jadi asam,” Hae-Seol menjawab
persis seperti jawaban di mimpinya.
“Oh ya? Dan sekarang rasanya manis atau asam?”
“Manis,” Hae-Seol tersenyum kemudian melanjutkan
ceritanya lagi. Ia tahu Ray kaget mengetahui tentang mimpi itu,
tapi ia tidak berbohong. Dan Ray percaya. Karena itu Ray me-
mintanya melanjutkan cerita. Kembali pada saat mereka wisuda,
Hae-Seol benar-benar masih merasakan betapa ia bahagia saat
bertemu Kang Ji-Woo, sampai-sampai ia ingin menanam bunga
pemberian Kang Ji-Woo agar tetap tumbuh.
Ia juga masih sangat ingat dengan Ray yang selalu
menyemangati dan sungguh-sungguh latihan Taekwondo ha-
nya karena mereka akan syuting film action. Dan ternyata, di
dunia nyata Ray bahkan jauh lebih hebat dari Hae-Seol dalam
bertarung dan menembak.
Hae-Seol sampai pada tahap ia terbangun dari koma,
dan ia ingin kembali ke mimpi lalu bertanya pada Ray; kenapa
kau dipanggil Ray? Dan untuk menjawab pertanyaan Ray di-
awal tadi maka Hae-Seol akan mengatakan, “Sangat. Nama Ray
sangat spesial. Tapi jika ditanya kenapa, aku juga tidak tahu.”
“Apa aku seperti sinar bagimu? Atau apa aku mem-
buatmu bahagia?” tanya Ray. Ia hanya ingin tahu itu dan tidak
akan menanyakan apapun berkaitan dengan perasaan Hae-Seol
padanya. Ia sangat menghormati Kang Ji-Woo, jauh di dalam lu-
buk hatinya meski ia sering bertengkar dengan sepupunya itu,
Ray sangat menghormati Kang Ji-Woo.
Hae-Seol tertegun, sejak remaja ia selalu menganggap
232

