Page 32 - SKI jld 4-16 2015 Resivi Assalam
P. 32
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 4
1644: Kitab karangan al-Raniri, Sirat al-Mustaqiem disempurnakan
1648: Akhbar al-Akhirah fi Ahwalin Yawm al-Qiyamah, sebuah karya
ekstologi dalam bahasa Arab ditulis di Gujarat
1651-1682: Masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa
1653: Kitab al-Raniri: Tybian fi ma`rifah al-adyan, ditulis
1658 M: Nuruddin al-Raniri wafat. Nuruddin al-Raniri wafat dengan
meninggalkan warisan kitab yang luar biasa banyaknya, lebih
dari 40 kitab mengenai berbagai cabang ilmu pengetahuan dan
sastra. Asal-usul beliau adalah bangsa Arab keturunan Quraisy
yang hijrah ke India. Ia dating pertama kali ke Aceh pada tahun
1637, setahun setelah mangkatnya Sultan Iskandar Muda.
Didukung oleh kecerdasan, keberanian dan penguasaannya atas
berbagai ilmu agama Islam akhirnya Syekh Nuruddin ar Raniri
menduduki posisi yang tinggi dalam kerajaan dengan dukungan
sultan Aceh.
1693: Suuri, seorang musisi Islam legendaris wafat
1701: Sultan Banjar pernah mengutus pangeran Singa Marta untuk
membeli kuda Bima. Selain membeli kuda, ternyata sang pangeran
juga menikah dengan seorang putri Bima yang terkenal sebagai
ahli seni. Mereka kembali ke Banjar dengan membawa sejumlah
kesenian tradisi asal Bima termasuk mengkreasi tari baru yang
dikenal sebagai tari Jambangan Kaca dan Pagar Mayang. Pada
masa pemerintahan Pangeran Hidayat (1845-1859), yang juga
dikenal sebagai seniman, kesenian di Banjar berkembang sangat
pesat.
1729 M: Yasadipura I (nama sebenarnya ialah Bagus Banjar), lahir di
Pengging. Ketika Bagus Banjar berusia delapan tahun, ayahnya
Raden Tumenggung Padmanegara mengirimnya ke Kedu untuk
belajar di Pesantren Kiyai Anggamaya. Di sini ia mempelajari
dasar-dasar agama Islam seperti fiqih, tasawuf, syariah, serta
bahasa dan kesusastraan Arab.
1773: Raja Ahmad lahir
1788: Lagu podho nonton diciptakan pada masa bupati Banyuwangi
ke-2, Tumenggung Mas Wiraguna II (Mas Thalib) untuk
melukiskan peristiwa penangkapan massal gerilyawan di desa
Gendoh, Singojuruh (Oetomo, 1987:115).
18