Page 35 - SKI jld 4-16 2015 Resivi Assalam
P. 35

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 4







                       1914:          Guru Jamaluddin dan beberapa ulama lain mendirikan madrasah
                                      Darussalam (Assalam) yang berorientasi ke Arab di Martapura.

                       1917:          Ditulis teks Hikayat Seri Rama versi Shellabear

                       1918:          Muhammad Dalil bin Muhammad Fatawi atau Syeikh Bayang
                                      menulis Rasul 25. Nazam Rasul 25 berisi tentang kisah nabi-nabi
                                      Allah s.w.t. (25 Rasul).


                       1919:          Kasus Cimareme atau SI-Afdeeling B.

                       1923:          Khalil Bangkalan wafat.

                       1926, 21 Oktober: Muktamar NU ke-1 yang menetapkan boleh (mubah) nya
                                      tari-tarian lenggak-lenggok dan gemulai.


                       1926:          Syekh  Hamid  Al-Qari  bersama  beberapa  orang  saudaranya
                                      diminta pengurus Assalam untuk memimpin dan mengasuh di
                                      madrasah  Darussalam.  Ia berhasil  mengembangkan lembaga
                                      pendidikan Islam itu tidak hanya khusus bagi orang Arab,
                                      melainkan terbuka bagi orang-orang Banjar.

                        1937:         Berdiri grup mamanda di desa Tubau Rantau, kabupaten Hulu
                                      Sungai Tengah.

                       1942:          Lagu genjer-genjer diciptakan

                       1945:          Ludruk Marhaen (nama grup, tidak ada kaitannya dengan
                                      marhaenisme  PNI)  didirikan  oleh  Pemuda  Sosialis  Indonesia
                                      (Pesindo), kelompok yang kemudian menjadi Pemuda Rakyat.

                       1947:          Arbain,  seorang  migran Banjar  di  Tembilahan,  bersama  para
                                      migran Banjar yang lain merintis Mamanda dan memberi nama
                                      grupnya Parit Empat Belas.

                       1950:          Arbain menyerahkan kepemimpinan grup  Parit Empat Belas
                                      kepada Usman Ancau yang ternyata mampu mengembangkan
                                      kesenian itu sehingga diparesiasi oleh penduduk yang bukan
                                      migran Banjar

                       1950-an:       Pesantren salafiyah Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah didirikan
                                      oleh kiai Chudori (murid pertama kiai Chozin, Bendo)

                       1958:          Ditulis Hikayat Aceh edisi Iskandar









                                                                                                 21
   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40