Page 33 - SKI jld 4-16 2015 Resivi Assalam
P. 33

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 4







                       1788:          Abdussamad al-Palimbani menyelesaikan penulisan Hidayat al-
                                      Salikin fi Suluk Maslak alMuttaqin yang ditulis dalam bahasa
                                      Melayu di Mekkah, karya ini merupakan adaptasi dari karya al-
                                      Ghazali, Bidayat al-Hidayah.

                       1799-1822:     Masa kekuasaan Sultan Dayyan Asraruddin, penguasa Buton ke-
                                      27

                       1801:          Gevrekzade wafat

                       1802, 15 Maret: Raden Ngabehi Ranggawarsita lahir di Yasadipuran,
                                      Surakarta. Ia adalah seorang penyair besar  sekaligus mistikus
                                      Muslim terkemuka. Dalam sejarah sastra Jawa klasik dia diberi
                                      kedudukan sebagai pujangga penutup. Sebutan ini diberikan
                                      oleh karena dengan kemunculan karya-karyanya sejarah sastra
                                      Jawa klasik dipandang berakhir dan sastra Jawa baru yang lebih
                                      profan bermula. Nama sebenarnya ialah Raden Bagus Burhan.

                       1805-1831 M:   Yang Dipertuan Muda kesultanan Riau Lingga memerintah.

                       1808:          Raja Ali Haji (Putra Raja Ahmad) lahir di Pulau Penyengat. Sejak
                                      masa bocah, Raja Ali Haji kerap mengikuti perjalanan ayahnya
                                      ke berbagai daerah. Baik untuk berdagang dan tugas yang lain.
                                      Salah satu perjalananya yang penting ialah ketika dibawa oleh
                                      ayahnya ke Batavia, memnemui Gubernur Jendral Baron van der
                                      Capellen.

                       1823:          Raja Ahmad memimpin misi dagang dan penelitian ke Batavia
                                      serta bertemu Gubernur Jendral Hindia Belanda. Minatnya pada
                                      sejarah dituangkan dalam karyanya Syair Perang Johor. Di dalam
                                      karyanya itu dia menguraikan perang yang terjadi antara Johor
                                      dan Aceh Darussalam pada abad ke-17 M.


                       1824:          Traktat London 1824

                       1825-1830:   Perang Diponegoro meletus. Ketika itu tahta kerajaan berada
                                      di tangan Sri Pakubuwana VI (1825-1830 M). Raja yang penuh
                                      semangat anti-kolonial ini tiba-tiba meninggalkan istana dengan
                                      dalih menjalankan tapa brata, suatu kebiasaan yang telah dia
                                      lakukan semenjak muda. Padahal apa yang dia lakukan ialah
                                      bertemu Pangeran Diponegoro. Setelah Belanda mengetahuinya
                                      dia ditangkap dan diasingkan ke Ambon.

                       1827:          Raja Ali Haji mengikuti ayahnya menunaikan ibadah haji ke
                                      Mekkah. Karena pengalamannya itu Raja Ali Haji tumbuh
                                      menjadi anak muda yang berwawasan luas. Dalam usia masih
                                      muda dia pun dikenal seorang ulama dan cendekiawan.



                                                                                                 19
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38