Page 401 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 401

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Aktifitas dakwah dilakukan pada dua obyek secara bersamaan: pada internal       Aktifitas dakwah
           umat dan kepada non-Muslim. Di kalangan internal umat, dakwah  berfungsi         dilakukan pada
           sebagai spiritual charger (penyegaran dan peningkatan keimanan), sedangkan      dua obyek secara
           kepada non-Muslim sebagai ajakan pada kebenaran agama tauhid (Meuleman          bersamaan: pada
                                                                                           internal umat dan
           2011).  Karena  misi  penyebarannya  inilah,  bersama  Kristen,  Islam  kemudian   kepada non-Muslim. Di
           digolongkan ke dalam kelompok expansive religions.  Karakter agama-agama     kalangan internal umat,
                                                             12
           ekspansif memproduksi dua hal sekaligus: perkembangan agama yang cepat dan      dakwah  berfungsi
                                                                                            sebagai spiritual
           konflik-konflik yang ditimbulkannya sebagai konsekuensi penyebarannya ketika   charger (penyegaran
           gerakan dakwah bertemu dengan batas-batas agama  (religious boundaries)         dan peningkatan
           dan kepercayaan lain. Atas kenyataan ini, sepanjang sejarahnya, agama-agama   keimanan), sedangkan
                                                                                          kepada non-Muslim
           ekspansif,seperti  Islam  dan Kristen,  tidak pernah absen dari  konflik-konflik   sebagai ajakan pada
           horizontal. Tidak bisa dipungkiri, secara sosiologis, konflik merupakan karakter   kebenaran agama
           inheren bahkan sesuatu yang taken for granted dari agama-agama ekspansif. 13    tauhid (Meuleman
                                                                                                2011).
           Dengan demikian, mengharapkan penyebaran Islam dan Kristen tanpa konflik
           sama sekali hanyalah angan-angan ideal-normatif.  Di masyarakat manapun
           konflik pasti terjadi. Sebagai karakter masyarakat, konflik hanya akan hilang
           bersamaan dengan hilang masyarakat itu sendiri. Konflik Islam-Kristen
           sebenarnya hanya bagian kecil saja dari perjalanan sejarahnya. “Islam dan
           Kristendom  sudah  lama  hidup  berdampingan,”  kata Bernard  Lewis,  “baik
           sebagai tetangga, sebagai saingan, walaupun kadang-kadang sebagai musuh”.
           Konflik hanyalah ekses dari agama ekspansif yang selebihnya merupakan
           dinamika dari perkembangan kedua agama ini. Dan perlu dicatat bahwa konflik
           sesungguhnya tidak selalu bermakna negatif. Banyak konflik terjadi hanya
           dalam batas ketegangan psikologis dan kemudian berakhir tanpa berwujud
           kekerasan. 14

           Walaupun konflik telah mengiringi perkembangan agama-agama samawi,
           frekuensi konflik yang terjadi dalam sejarah pun tidak sama di setiap daerah dan
           kawasan. Frekuensi itu bergantung pada banyak hal yang mempengaruhinya
           seperti iklim, karakter daerah, sifat masyarakat, budaya lokal, situasi politik dan
           cara berdakwah. Dalam konteks ini, seperti sudah diakui banyak sejarawan,
           Nusantara adalah kawasan dunia Islam yang sejarah Islamisasinya berlangsung
           damai.  Sejumlah  sarjana  pengamat  Indonesia  seperti  John  Esposito,  Bruce
           Lawrence, Fazlur Rahman dan lainnya mengakui karakteristik damai Islamisasi
           di Asia Tenggara. Dalam pengamatan Arnold, Islamisasi damai ini telah
           menghasilkan watak Islam yang distingtif dan prospektif bagi peradaban Islam
           masa depan. 15
















                                                                                                 385
   396   397   398   399   400   401   402   403   404   405   406