Page 406 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 406

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Antara abad ke-15 sampai ke-17, peranan para guru spiritual itu semakin
              Antara abad ke-15     mengental pada sosok para wali yang disebut walisongo. Mereka adalah Syekh
            sampai ke-17, peranan   Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan
             para guru spiritual itu
              semakin mengental     Drajat, Sunan Giri, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga dan Sunan
               pada sosok para      Gunung Djati. Tentu saja wali Jawa bukan hanya mereka, ada juga Syekh Siti
              wali yang disebut     Jenar, Syekh Bentong, Sunan Tembayat, Sunan Geseng dan lain-lain yang tidak
              walisongo. Mereka
            adalah Syekh Maulana    disebut sebagai tim wali sembilan. Peninggalan arkeologis mereka semua ada
              Malik Ibrahim atau    di Jawa, baik berupa keraton, masjid dan makam-makamnya yang masih terus
             Sunan Gresik, Sunan    ramai dikunjungi para panziarah. Ramainya para penziarah yang tak pernah susut
            Ampel, Sunan Bonang,    menguatkan kedudukan mereka yang dipercaya sebagai ulama dan wali. Semua
             Sunan Drajat, Sunan
              Giri, Sunan Muria,    sumber-sumber lokal atau historiografi tradisional di Jawa dalam bentuk serat,
             Sunan Kudus, Sunan     hikayat dan babad seperti Babad Tanah Jawi, Babad Demak, Babad Cirebon, dan
              Kalijaga dan Sunan
             Gunung Djati. Semua    Carita Purwaka Caruban Nagari menyebut dan mengakui peranan walisongo
             sumber-sumber lokal    dalam penyebaran Islam di Nusantara yang kisah sosok mereka serta cerita-
               atau historiografi   cerita pengislamannya sering digambarkan sebagai historiografi yang dipenuhi
              tradisional di Jawa   unsur-unsur mitos, dongeng dan legenda. Unsur-unsur itu dalam historiografi
              dalam bentuk serat,
              hikayat dan babad     tradisional merupakan proses historis yang wajar, karena sejarah mereka berasal
             seperti Babad Tanah    dari tradisi lisan, kemudian beredar dan ditransmisikan di kalangan ulama. Lebih
             Jawi, Babad Demak,     jauh, seiring perjalanan sejarah, kisah tersebut kemudian menyebar ke kalangan
              Babad Cirebon, dan
            Carita Purwaka Caruban   masyarakat luas melalui  “mnemonic devices”  (media  ingatan)  atau  “network
             Nagari menyebut dan    of collective memory.” Dalam proses penyebaran kisah-kisah mereka, media
              mengakui peranan      ingatan atau memori kolektif ini tak bisa menjaga keaslian cerita dan historisitas
               walisongo dalam
              penyebaran Islam      periwayatan sehingga terjadilah distorsi dan penambahan, bercampur dengan
              di Nusantara yang     legenda dan mitos. Tradis lisan ini kemudian dituliskan menjadi cerita sejarah
              kisah sosok mereka    dalam naskah-naskah. 31
               serta cerita-cerita
            pengislamannya sering
             digambarkan sebagai    Karena jendela ke masa silam hanya naskah, para sejarawan ilmiah dalam
              historiografi yang    kajian-kajian akademik di zaman modern membicarakan sosok, eksistensi dan
             dipenuhi unsur-unsur
             mitos, dongeng dan     peranan mereka dengan ungkapan-ungkapan yang ambivalen dan serba salah.
                  legenda.          Historiografi tradisional satu sisi dianggap tidak memenuhi kriteria ilmiah tapi
                                    di sisi lain tidak bisa dihindari karena dari sumber-sumber itulah pintu ke masa
                                    silam Asia Tenggara terbuka di mana limpahan informasi tersedia. Dan penting
                                    ditegaskan, “sejarah ilmiah” sudah pasti tidak dijumpai dalam historiografi abad
                                    ke-18 ke belakang.  Maka, historiografi tradisional, terlepas dari kekurangan-
                                                      32
                                    kekurangannya, adalah sumber yang penting dalam kajian sejarah. Sejarah
                                    ilmiah tinggal membatasinya pada fakta-fakta yang rasional dan faktual. Di luar
                                    kisah-kisah legenda sekitar walisongo, kiprah mereka sebagai sufi dan para wali
                                    penyebar Islam di Jawa tidak ada yang meragukan.


                                    Pasca era kerajaan-kerajaan Islam, para sufi mengalami metamorfosis dari “sufi
                                    islamisasi” ke “sufi intelektual” abad ke-17/18. Sufi intelektual ini hadir semarak
                                    dalam tradisi wacana keilmuan melalui kehadiran ulama-ulama besar dan
                                                                            33
                                                                                                34
                                    pujangga Nusantara sejak Hamzah Fansuri,  Nuruddin Al-Raniri,  ‘Abd Al-Ra’uf






                    390
   401   402   403   404   405   406   407   408   409   410   411