Page 410 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 410
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
proses pembangunan ekonomi yang masif. Ketika tahun 1985, pemerintah
Orde Baru menerapkan program deideologisasi dengan kebijakan Asas
Tunggal untuk menghapuskan ideologi primordial dari partai-partai politik dan
organisasi massa, yang terjadi justru sebaliknya. Deideologisasi menghadirkan
berkah karena, dengan itu, umat Islam berkesempatan melakukan reorientasi
diri. Setelah pemberlakukan Asas Tunggal, kalangan Islam mulai meninggalkan
Ketika tahun 1985, gelanggang politik ideologis yang sebelumnya sangat menguras energi dan
pemerintah Orde Baru melelahkan tapi hasilnya minimal. Deideologisasi dan depolitisasi mendorong
menerapkan program
deideologisasi dengan umat Islam meninggalkan medan politik formal (partai politik) dan bergerak
kebijakan Asas Tunggal kepada ranah yang lebih luas dan kondusif yaitu gerakan kultural.
untuk menghapuskan
ideologi primordial
dari partai-partai Sejak itu, pendidikan dan dakwah hidup lebih semarak. Mohammad Natsir
politik dan organisasi meninggalkan politik formal dan menceburkan dirinya dalam Dewan Dakwah
massa, yang terjadi Islam Indonesia (DDII). Nurcholish Madjid, pemikir muda aktifis HMI, memberikan
justru sebaliknya. energi baru kepada umat Islam berupa landasan pemikiran dengan gagasan
Dengan itu, umat
Islam berkesempatan terkenalnya “Islam yes, partai Islam No!” Sejak itu, situasi sosial politik agama
melakukan reorientasi berubah sedikit demi sedikit sesuai berjalannya waktu. Program orientasi kultural
diri. Sejak itu,
pendidikan dan ini kemudian membawa hasilnya yang konkrit. Dakwah Islam berkembang
dakwah hidup lebih luas tanpa muatan politik dan ideologis. Islam mulai berwajah ramah dengan
semarak. senyuman simpatik pada setiap kelompok dan golongan dengan seruan kepada
ajaran Islam yang genuine, tanpa teriakan, amarah dan kutukan. Hasilnya, politik
Soeharto pun mulai ramah terhadap kalangan Islam. Pandangan “radikal” dan
“ideologis” terhadap kelompok Islam mulai menyusut perlahan. Islam mulai
diterima berbagai kalangan. Sejak tahun 1980-an, Islam Indonesia adalah Islam
kultural. 46
Perubahan orientasi ini ditunjang oleh pembangunan ekonomi dan
perkembangan pendidikan umat yang melahirkan generasi baru Islam. Suksesnya
pembangunan ekonomi memberikan dampak sosiologis yang kuat terhadap
masyarakat Islam. Dalam sektor ekonomi, program pembangunan Orde Baru
mengalami kesuksesan dengan rata-rata pertumbuhan GDP (General Domestic
Product) lebih dari 7,5 persen pertahun. Hal ini telah menaikkan inkam perkapita
masyarakat dari di bawah US $420 menjadi US $4500. “Revolusi pendidikan”
kemudian terjadi disebabkan kenaikan demi kenaikan anggaran pendidikan
oleh pemerintan walaupun masih sangat terbilang kecil. Di sisi lain, proses
modernisasi dan industrialisasi telah mendorong terjadinya urbanisasi yang
kemudian juga menjadi penyebab munculnya kesejahteraan jenis baru yaitu dari
sektor industri bukan lagi pertanian. Orang-orang kaya baru di perkotaan pun
bermunculan sebagai produk kebijakan industrialisasi.
Orang-orang kaya baru inilah yang kemudian disebut sebagai kelas menengah,
sebuah kelas sosial ekonomi baru yang mulai menikmati kemakmuran. Kelas
sosial ekonomi baru ini tak pelak lagi sebagian terdiri dari umat Islam yang
berdomisili di wilayah-wilayah perkotaan. Kelas menengah Muslim yang
394

