Page 415 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 415
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
menjadi tokoh-tokoh nasional: Hatta Rajasa (kini Ketua
Umum PAN dan Menteri Koordinator Ekonomi), Al-Hilal
Al-Hamdi (Menteri Tenaga Kerja Kabinet Abdurrahman
Wahid, kini Sekjen PKS), M.S. Ka’ban (Anggota DPR/
MPR, Mantan Mentri Kehutanan, Ketua Umum PBB),
Didin Hafifuddin (Guru Besar IPB, Ketua Umum Baznas),
Mutammimul Ula (mantan anggota DPR Fraksi PKS),
Faisal Basri (ekonom terkemuka) dan lain-lain. 57
Keunikan program LMD, sekaligus menjadi kunci
keberhasilannya, adalah semua alumni training ditugaskan
untuk mengembangkan dan menghidupkan aktifitas
keislaman masjid kampus ketika kembali ke kampusnya
masing-masing. Ketika masjid-masjid kampus ternama di
Jawa dan Sumatera sudah hidup dengan aktifitas-aktifitas
keislamannya, mereka kemudian membentuk organisisasi
jaringan lembaga dakwah kampus yang dikenal dengan
LDK. Hasilnya, sepuluh tahun kemudian, Indonesia
menyaksikan sebuah kebangkitan Islam di kalangan para
mahasiswa dengan masjid kampus sebagai basisnya.
Masjid-masjid kampus seperti Masjid Shalahuddin di
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Masjid
Manarul Ilmi di ITS (Institut Teknologi Surabaya) dan Masjid Imaduddin Abdulrahim, seorang
Raden Patah di Unibraw Malang, Masjid Abu Dzar Al-Ghiffari di IPB dan Masjid intelektual kharismatik yang,
beberapa tahun kemudian,
Arif Rahman Hakim di Universitas Indonesia, masing-masing memiliki lembaga menjadi ‘arsitek’ pembentukan
LDK. Jaringan LDK ini, pada beberapa kali bulan Ramadhan menyelenggarakan Ikatan Cendekiawan Muslim se-
kegiatan yang di tahun 1980an menjadi trademark mahasiswa Islam di kampus- Indonesia (ICMI)
Sumber: Dokumentasi Masjid Salman
kampus sekuler yaitu program RDK (Ramadhan di Kampus) yang bersifat
masif pada tahun 1980 dan 1990-an. Programnya adalah tadarus Al-Qur’an,
pendalaman pemahaman ajaran Islam, diskusi-diskusi keagamaan, diskusi Islam
dengan nilai-nilai modern, kunjungan-kunjungan ke panti-panti asuhan dan
lain-lain. Tak jarang, RDK diikuti oleh para pelajar SMA, yang ketika mereka
selesai menjadi mahasiswa kemudian meneruskan menghidupkan kegiatan-
kegiatan keislaman di kampus-kampus negeri di kota-kota besar di Indonesia.
Pada periode ini, masjid kampus menjadi sebuah powerful network yang
berada di luar kontrol negara di mana intensifikasi ketaatan beragama
mengalami peningkatan di kalangan mahasiswa Islam, dan relasi-relasi antar
kampus menguat membentuk jaringan yang kelak menjadi basis yang efektif
untuk memobilisasi kekuatan, politik dan kultural. Gerakan masjid kampus
ini berkembang di universitas-universitas sekuler di banyak wilayah dan
“penggunaannya sebagai base camp gerakan-gerakan religio-politik dari para
mahasiswa universitas sekuler merupakan sebuah fenomena baru dalam sejarah
Indonesia … dan merupakan monumen dari kebangkitan intelektual yang
berorientasi dakwah.”
58
399

