Page 419 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 419
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
diuraikan beberapa da’i terpopuler sebagai ikon-ikon dakwah yang namanya
dikenal luas dalam level nasional sejak tahun 1980-an. Tentu saja, para mubaligh
bukan hanya da’i populer dan bisa jadi yang lebih berpengaruh secara konkrit
pada perubahan kesadaran keberagamaan masyarakat juga bukan mereka tapi
mubaligh-mubaligh lokal, lebih tepat lagi para guru dan ustadz yang dedikatif
dan tulus di masyarakat. Fenomena da’i populer hanyalah menunjukkan gejala Fenomena da’i populer
hanyalah menunjukkan
kegemaran dan pemujaan saja pada tokoh-tokoh (“fan-ness”), soal pengaruh gejala kegemaran dan
kesadaran dan kemampuan konkrit merubah perilaku adalah soal lain. pemujaan saja pada
tokoh-tokoh (“fan-
ness”), soal pengaruh
"Massa memang memerlukan kata dan kalimat sederhana. Tapi kesadaran dan
pemecahan masalah tidak bisa diharapkan benar dari seorang tokoh kemampuan konkrit
merubah perilaku
dengan kemampuan semacam itu [popularitas]. Seorang tokoh dengan adalah soal lain.
kemampuan retorika yang tinggi, dalam pengalaman politik Indonesia,
hanya mampu mendobrak, seperti diperlihatkan Soekarno. Namun,
penyelesaian masalah secara dingin, tekun dan sistematis hanya bisa
dilakukan oleh seorang tokoh analitis seperti Moh. Hatta." 62
Para pendakwah populer yang dibahas disini dimaksudkan sebagai simbol dan
representasi saja dari peranan mubaligh dalam gerakan dakwah di Indonesia.
Ketika Soeharto semakin menerima Islam sebagai buah dari perkembangan
dakwah kultrural, Cendana memiliki mubaligh menyejukkan yang dikenal luas
karena sering muncul di televisi, yaitu KH. Kosim Nurseha. Ceramah Kiayi Kosim
dikenal mudah dicerna yang dibumbui humor-humor segar dengan logat Tegal
yang kental sebagai tempat kelahirannya. Popularitas Kiayi Kosim berawal dari
aktifitasnya memberikan siraman rohani di Disbintal Angkatan Darat, tempatnya
bertugas, awal tahun 1980-an. Ketika semakin dikenal, Kosim Nurseha mulai
tampil di depan publik yang lebih luas. Ia mengisi ceramah di Radio Kayu Manis
Jakarta hingga siaran televisi. Perkenalannya dengan keluarga Cendana brmula
ketika memberikan ceramahnya di TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Ibu Tien
Soeharto tersentuh oleh ceramahnya dan sejak itu sering diminta memberikan
pengajian rutin di lingkungan istana negara yang diselenggarakan keluarga
Soeharto dua kali sebulan. Pengajian rutinnya di Cendana itulah yang kemudian
disebut-sebut memberikan kontribusi mendekatkan Soeharto dengan Islam di
tahun 1990-an. Kiayi Kosim Nurseha wafat tanggal 1 Juni 2013.
Bila di Jakarta ada KH. Kosim Nurseha, di Bandung ada mubaligh populer yang
lahir dari kampus ITB, KH. Miftah Faridh. Mantan Ketua HMI Cabang Surakarta
dan pengagum Nurcholish Madjid itu adalah dosen agama Islam di ITB dan
beberapa perguruan tinggi lain di Bandung seperti UNPAD, IKIP, INISI, Sangga
Buana dan UNISBA. Sebagai dosen agama ITB, Miftah juga adalah Pembina
Masjid Salman yang dirasakan oleh para aktifis Salman dan jama’ahnya sebagai
sosok pengayom dan teladan. Tahun 1980-an, KH. Miftah sibuk berkeliling
403

