Page 423 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 423
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
tampaknya kesederhanaannya itulah yang justru menjadi kekuatannya. Tema-
tema pembahasan Agym lebih pada bagaimana memperbaiki diri untuk menjadi
Muslim yang baik dengan menjaga hati dan memperbaiki diri sebagai konsep
manajemen qalbu. Pendekatan “menjaga hati” itu dirasakan baru, menyentuh
dan mampu membuat banyak jama’ahnya menyadari kekeliruan dan kekurangan
diri. Apalagi ketika Agym memanjatkan do’a di akhir pengajiannya yang banyak
dirasakan jama’ahnya sebagai kekuatannya yang menonjol. Sentuhan-sentuhan
kalimat muhasabah Agym sering mampu menguras air mata para hadirin yang
mendengarkannya karena sifatnya yang introspketif, yang menghujam kalbu
dan menyadarkan kelemahan-kelemahan diri.
Di sisi lain, ceramah-ceramah tipe “menjelaskan Islam” umumnya lebih berorientasi
keluar diri (kondisi masyarakat, sitsuasi sosial politik, pemerintah bahkan dunia
internasional). Maka, tendensi kritik sering tidak terhindarkan. Bagi umat yang
sudah kesal, jengkel bahkan frustrasi oleh lingkungan yang sudah jauh dari nilai-
nilai Islam, ceramah seperti ini menjadi saluran yang mewadahi ketidakpuasan
massa (mass discontent) untuk melirik kepada Islam. Larisnya mubaligh tipe ini
karena fungsi advokasinya melalui bahasa agama yang membuatnya digemari
masyarakat. Ini adalah mainstream gaya tabligh yang dipersonifikasikan oleh
Zainuddin MZ di tingkat nasional. Kesukaan dan kekaguman masyarakat pun
pada Zainuddin umumnya adalah karena ceramahnya yang mampu menembus
berbagai lapisan dan kalangan serta kemampuan kritiknya yang tajam.
Masjid Daarut Tauhid merupakan
masjid yang didirikan oleh
Abdullah Gymnastiar yang
berlokasi di Gegerkalong,
Bandung.
Sumber: Direktorat Sejarah dan Niai Budaya
407

