Page 420 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 420

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                                         memberikan ceramah di berbagai tempat di kota
                                                         Bandung. Bahasa yang enak dan penuturannya yang
                                                         lembut membuat Kiyai Miftah digemari masyarakat.
                                                         Kendati tidak banyak masuk televisi, popularitasnya di
                                                         Bandung sangat dirasakan. Setelah aktifitas mubalighnya
                                                         berkurang dan popularitas menyusut, Kiayi Miftah
                                                         kemudian menempuh pendidikan S3-nya di UIN Jakarta
                                                         di bawah bimbingan Prof. Dr. Azyumardi Azra, setelah itu
                                                         kemudian menekuni dunia profesi keulamaan di Majelis
                                                         Ulama Indonesia (MUI). Karena pengaruh figur dan sosok
                                                         keteladanannya, Prof. Dr. KH. Miftar Faridl lama bertahan
                                                         sebagai Ketua MUI Kota Bandung dan Jawa Barat hingga
                                                         sekarang.

           KH. Miftah Faridh, mubaligh                   Ketika pamor KH. Kosim Nurseha dan KH. Miftah Faridh
           populer yang lahir dari kampus
           ITB                      mulai meredup, di Jakarta kemudian muncul lagi mubaligh kawakan dengan
           Sumber: Dokumentasi Masjid Salman  pengaruhnya yang luas karena kemampuan orasinya yang memukau, dengan
                                    logat Betawi yang kental: KH. Zainuddin MZ. Berbeda dengan yang lain, KH.
                                    Zainuddin bukan hanya mubaligh tapi orator yang fasih. Gabungan antara
                                    gaya orasinya, penguasaan materi ceramahnya dan kefasihannya menjelaskan
                                    ajaran-ajaran Islam serta humor-humornya yang menarik, lucu dan menghibur,
                                    membuat Zainuddin mampu menyihir jutaan masyarakat dan ceramahnya
                                    mampu menembus berbagai kalangan, dari pejabat tinggi, pimpinan militer,
                                    seniman, artis, akademisi, mahasiswa, petani, preman, wanita tuna susila,
                                    tukang becak dan orang-orang pinggiran. Kritiknya yang tajam pada para
                                    penyelenggara negara tapi diberikan dengan memberikan penekanan tentang
                                    pentingnya  kerjasama antara  ulama  dan umara. Ceramahnya di  berbagai
                                    tempat selalu dihadiri ribuan orang yang membuatnya memiliki julukan “Dai
                                    Berjuta Umat.” Permintaan ceramah dari Sabang sampai Merauke dari berbagai
                                    kelompok masyarakat yang haus agama tapi tidak terlayani semuanya membuat
                                    Zainuddin mengambil langkah menggunakan helikopter untuk berdakwah.
                                    Tahun 1990-an, KH. Zainuddin benar-benar sangat populer. Majalah  Gatra
                                    Edisi 1 Februari 1997 mengangkat hasil survey tentang kiayi fenomenal ini oleh
                                    Center for The Study of Development and Democracy (CESDA) yang hasilnya
                                    menempatkan KH. Zainuddin MZ pada urutan pertama diantara belasan tokoh
                                    Islam lain yang menjadi panutan. Posisinya berada di atas B.J. Habibie yang saat
                                    itu sebagai Menristek dan Ketua Umum ICMI, KH. Abdurrahman Wahid (Ketua
                                    PB.  NU),  Amien  Rais  (Ketua  Umum  Muhammadiyah)  dan  tokoh-tokoh  Islam
                                    penting lainnya. Ini menunjukkan, dakwah yang komunikatif dan berinteraksi
                                    langsung  dengan masyarakat  sangat disukai,  melebihi  gerakan ormas  Islam.
                                    Dakwah dengan kekuatan retorika pun mulai menjadi fenomena dan kekuatan
                                                                                        63
                                    baru dalam perkembangan dakwah Islam di Indonesia.









                    404
   415   416   417   418   419   420   421   422   423   424   425