Page 424 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 424

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Abdullah Gymnastiar menawarkan orientasi baru. Ia berbicara bukan “keluar”
                                    tapi lebih banyak “ke dalam” diri melalui perenungan-perenungan. Kritik-
                                    kritik  pun  bobotnya  bukan  kepada kondisi  sosial  masyarakat  tapi  ke dalam
                                    diri melalui muhasabah. Dengan kemampuan berbahasanya yang menyentuh,
                                    model ceramah Agym kemudian menjadi sebuah fenomena baru di Indonesia.
                                    Semacam “tasawuf modern”-nya Buya Hamka tapi dikemas dalam tabligh dan
                                    bahasa sehari-hari yang sederhana. Karena penekanannya seputar evaluasi dan
                                    penyadaran diri, ceramah Agym tak jauh dari materi-materi sekitar sabar, ikhlas,
                                    tawakkal, zuhud merutinkan ritual seperti tahajjud, puasa, zakat dan sebagainya
                                    untuk menyelesaikan masalah-masalah diri yang berat. Oleh bobot ini, sebagian
                                    kalangan  merumuskan  Agym  bukan  sebagai  ulama  (dalam  pengertian
                                    konvensional)  tapi  lebih  sebagai  motivator  yang  membangkitkan  gairah
                                    beramal ibadah, semangat hidup, mencari ilmu dan usaha memperbaiki diri.
                                    Daya tarik dan kemampuan Agym dalam mengungkapkan bahasa-bahasa yang
                                    menyentuh bermula pada tahun 1980-an, ketika ia berada dibawah bimbingan
                                    Ajengan Junaedi di Garut, Jawa Barat. Dikabarkan, di situ ia mendapatkan ilmu
                                    laduni yaitu pemahaman spiritual tanpa melalui proses belajar.

                                    Dalam situasi perubahan sosial yang cepat, beban hidup yang berat karena
                                    persoalan materi, persaingan hidup yang tinggi yang membuat orang-orang
                                    kehilangan kendali dan kontrol diri yang menghalalkan segala cara, kondisi
                                    umat yang sudah kehilangan figur keteladanan melalui contoh dan perilaku,



           Gedung Pemberdayaan
           Umat Daarut Tauhid. Agym
           membangun lembaga
           yang mengelola zakat dan
           wakaf sebagai wadah untuk
           memberdayakan umat.
           Sumber: Direktorat Sejarah dan Niai Budaya






























                    408
   419   420   421   422   423   424   425   426   427   428   429