Page 429 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 429
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
mahal, yang sering tampak tak wajar, tidak menjadi persoalan para orang tua.
Sekolah-sekolah Islam Terpadu tetap diburu masyarakat di manapun berada.
Tampaknya, muncul kesadaran para orang tua bahwa dekandensi moral remaja
yang tak ada tanda-tanda menurun sangat mengkhatirkan para orang tua dan
kualitas pendidikan anak serta masa depan mereka adalah aset yang jauh lebih
penting dari sekadar nilai uang.
Peranan Majlis Taklim
Selain tiga fenomena di atas, yang tak kalah pentingnya adalah gerakan dakwah
Majlis taklim adalah
masjid yang yang lebih populer di masyarakat dan tak ditemukan di negeri- semacam “vernacular
negeri Muslim lain yaitu kelompok majlis taklim. Majlis taklim adalah semacam religion,” sebuah
“vernacular religion,” sebuah kekayaan religio-kultural khas Islam Indonesia. kekayaan religio-
kultural khas Islam
Kelompok pengajian yang tersebar di seluruh Indonesia ini, uniknya mayoritas Indonesia. Majlis taklim
diikuti oleh ibu-ibu, bahkan di banyak majlis taklim jama’ahnya seratus persen adalah forum religio-
perempuan. Laki-laki, kalau bukan ustadznya, hanya partisan, penggembira kultural yang paling
atau pendukung. Majlis taklim adalah forum religio-kultural yang paling populer populer karena berbasis
di masjid-masjid
karena berbasis di masjid-masjid masyarakat yang jutaan jumlahnya di Indonesia. masyarakat yang jutaan
Sebagaimana jutaan jumlah masjid di Indonesia, maka jutaan majlis taklim pun jumlahnya di Indonesia.
hidup dan berkembang dari masjid-masjid kecil hingga masjid-masjid besar, di Kelompok-kelompok
majlis taklim adalah
pedesaaan-pedesaan hingga wilayah-wilayah perkotaan. kelompok dakwah yang
efektif dan memiliki
Kelompok-kelompok majlis taklim adalah kelompok dakwah yang efektif dan potensi besar dalam
menyemarakkan
memiliki potensi besar dalam menyemarakkan dakwah Islam. Karena potensinya dakwah Islam.
ini, majlis taklim sangat rentan dimobilisasi untuk kepentingan politik. Misalnya,
pada tanggal 22 Juni 2009, Tuty Alawiyah, Ketua Badan Kontak Majlis Taklim
(BKMT) se-Indonesia menyatakan dukungannya pada pasangan calon presiden
dan wakilnya, Jusuf Kalla dan Wiranto, dalam Rakernas BKMT yang diikuti
pengurus dari 31 provinsi di Indonesia. Dengan demikian, berarti 18 Juta anggota
jamaah Majelis Taklim se-Indonesia mendukung pencalonan pasangan yang
diakronimkan dengan JK-Win (“Win” adalah kependekan dari Wiranto sebagai
slogan kampanye yang bermakna “menang”). Kalla saat itu sebagai wakil
presiden SBY, Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua Palang Merah Indonesia
(PMI). Tuti beralasan, majlis taklim bukan berarti diarahkan pada politik praktis,
66
tetapi lebih oleh tuntutan agama untuk memilih presiden dan wakil presiden
yang bisa membawa aspirasi umat Islam dengan pemahaman keislamannya yang
413

