Page 432 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 432

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Endnotes
                                    1     Thomas W. Arnold, The Preaching of Islam, A History of the Propagation of the Muslim
                                          Faith, Second Edition, Revised dand Enlarged, (London Constable & Company Ltd., 1913),
                                          hal.10.
                                    2     Arnold, The Preaching of Islam,…..hal.10.
                                    3     Lathrop Stoddard,  The New World of Islam,  (Chapman  and  Hall,  LTD,  London,  1922),
                                          hal.1.
                                    4     “Penyebaran agama ini dengan sangat cepat ke sebagian besar penduduk bumi disebabkan
                                          beberapa aspek, sosial, politik dan agama: tetapi dari semua ini, salah satu faktor yang
                                          sangat kuat berpengaruh yang membuahkan hasil yang mengagumkan adalah semangat
                                          tak kenal lelah para pendakwah Muslim, yang nabinya sendiri sebagai contoh teladan,
                                          telah  menghabiskan usianya  untuk menyeru  orang-orang  yang belum  beriman.” Lihat
                                          Arnold, The Preaching of Islam,…..hal.11.
                                    5     Wawancara situs Islam Indonesia dengan Peter Carey, 27 Januari 2014.
                                    6     Bernard H.M. Vlekke, Indonesia. Sejarah Nusantara,  (Jakarta: KPG bekerjasama dengan
                                          Freedom Institute, 2008) hal.92-93.
                                    7     Buku Vlekke,  Nusantara: Sejarah Indonesia ini cukup banyak kelemahannya. Menurut
                                          Taufik Abdullah karena tak memakai sumber-sumber primer, kecil membicarakan peranan
                                          Sumatra, mengabaikan peringatan Resink tentang regio-sentrisme dan tidak berdasarkan
                                          riset yang mendalam (2008: xxvii, xxxii). Karenanya, anjur Taufik, walapun buku Vlekke ini
                                          lumayan tapi tak perlu direkomendasikan untuk dibaca.
                                    8     Fakta membuktikan salah sebuah teori. Lawan dari verifikasi. Bila fakta terbalik dari teori
                                          berarti teori yang gugur. Popper menolak verifikasi dan mengajukan falsifikasi. Fungsi teori
                                          bukan hanya verifikasi tetapi juga penting adalah falsifikasi. Lihat Karl R. Popper, Gagalnya
                                          Historisisme, (Jakarta: LP3ES, 1985).
                                    9     Bagi Marx, pertentangan kelas adalah inti dari materialisme historis. Marx membagi dua
                                          jenis konflik kelas: “Class in itself” dan “class for itself.” Yang pertama adalah kelas tanpa
                                          kesadaran dimana sekelompok orang dengan posisi, kedudukan dan kepentingan yang
                                          sama menempati sebuah kelas secara alamiah. Class in itself tidak melahirkan gerakan sosial
                                          dan mobilisasi politik karena tidak ada kesadaran kelompok didalamnya. Sedangkan class
                                          for itself adalah kelas dengan kesadaran. Sekelompok orang dengan posisi, kedudukan
                                          dan kepentingan yang sama, menempati sebuah kelas yang sama, memiliki kesadaran
                                          bersama,  membentuk  gerakan  bersama  untuk  kepentingan  bersama  kelas  itu  (lihat
                                          Haralambos and Holborn, 1995). Tentu saja, materialisme historis Marx adalah abstraksi
                                          masyarakat Eropa abad ke-19 yang tidak relevan dengan masyarakat Muslim yang harus
                                          dijelaskan oleh filsafat sejarah Islam. Untuk filsafat sejarah Islam lihat diantaranya Charles
                                          Issawi, Filsafat Islam tentang Sejarah. Pilihan dari Muqaddimah Karangan Ibn Khaldun dari
                                          Tunis (1332-1406), (Djakarta: Tintamas, 1962); Abdul Hamid Shiddiqi, Islam dan Filsafat
                                          Sejarah (Tafsir Al-Tarikh), (Jakarta: Media Dakwah, 1983).
                                    10    Johan Hendrik Meuleman, “Dakwah,” competition for authority, and development,
                                          Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 167, No. 2/3 (2011), hal.236.
                                    11    Pemrakarsanya adalah Sayid Muhammad Al-Fachir, Sayid Muhammad bin Abdullah bin
                                          Sjihab, Sayid Idrus bin Ahmad dll. Jami’atul Khair kemudian mendirikan sekolah dan
                                          mengundang guru dari Sudan yaitu Syekh Ahmad Syurkati.
                                    12    Berdasarkan kecenderungannya, studi agama-agama (religious studies), membagi agama
                                          kepada dua:  “expansive” dan  “contractive religion”. Lihat Frank Gaetano Morales,
                                          “Expansion and Contraction: A Comparative Analysis of Hinduism and Islam from a
                                          Religious Studies Perspective,” THE NAIMISHA JOURNAL, January-March 2002: Volume 2,
                                          Number 1, 2002, hal.1. Kecenderungan ekspansif terdapat pada agama-agama samawi
                                          mengingat pesan agama ditujukan untuk seluruh manusia dimana klaim kebenaran yang
                                          bersifat profetik disampaikan dalam bahasa sehari-hari. Lihat Moh. Ali Aziz, dkk, Dakwah
                                          Pemberdayaan Masyarakat: Paradigma Aksi Metodologi,  (Pustaka  Pesantren,  2005),
                                          hal.86. Secara tak terhindarkan, ini kemudian menjadi sumber konflik baik dalam kalangan
                                          intra maupun antar umat beragama terutama ketika teks ajaran agama ditafsirkan secara
                                          serampangan dan klaim kebenaran dibarengi dengan ungkapan yang menyinggung
                                          atau melecehkan kelompok atau agama lain sehingga menimbulkan kebencian bahkan
                                          permusuhan.


                    416
   427   428   429   430   431   432   433   434   435   436   437