Page 430 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 430

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    baik.  Namun demikian, ia tidak bisa menjamin akan menang karena pilihan
                                         67
                                    tetap diserahkan kepada masing-masing pribadi masyarakat untuk menentukan
                                    siapa calon yang dianggap paling pantas.

                                    Majelis taklim lahir, tumbuh dan berkembang di masyarakat dari kebutuhan
                                    akan pembinaan keluarga Muslim, pendidikan Islam dan pelaksanaan dakwah.
                                    Karena kuat hubungannya dengan keluarga, aktifis majlis taklim umumnya adalah
                                    kaum ibu yang konsern pada pendidikan agama di keluarga dan di masyarakat,
               Majelis taklim di    walaupun seringkali materi pengajian majlis taklim tidak menyentuh masalah
               Indonesia sudah      kehidupan  konkrit  sehari-hari.  Pendiri  majlis  taklim  adalah  individu-individu
              menjadi bagian dari   (ustadz, kiayi), pengurus masjid, pengurus madrasah atau meunasah, kalangan
               kehidupan sosial
              masyarakat sebagai    profesi, organisasi keagamaan, atau kelompok masyarakat lainnya. Pengelolaan
            tempat pengajaran atau   majlis taklim selama ini ada yang di bawah pengurus masjid, instansi, kantor,
             pendidikan Islam non-  organisasi keagamaan atau lembaga majelis taklim itu sendiri. Majelis taklim
             formal sehingga tidak
              terikat oleh waktu,   di Indonesia sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat sebagai
             sifatnya terbuka bagi   tempat pengajaran atau pendidikan Islam non-formal sehingga tidak terikat
            siapa saja dari berbagai   oleh waktu, sifatnya terbuka bagi siapa saja dari berbagai strata sosial. Tempat
             strata sosial. Tempat
              penyelenggarannya     penyelenggarannya fleksibel seperti di masjid, mushalla, rumah, kantor, gedung,
              fleksibel seperti di   aula dan sebagainya. Fungsinya sebagai lembaga dakwah dan pendidikan
               masjid, mushalla,    non-formal membuat majlis ini mampu bertahan dan sangat dekat dengan
            rumah, kantor, gedung,   masyarakat.
             aula dan sebagainya.
              Fungsinya sebagai
             lembaga dakwah dan     Majlis taklim sangat banyak jumlahnya dan berkembang luas karena mudah
            pendidikan non-formal
              membuat majlis ini    didirikan dan memberikan banyak hal. Selain sebagai forum pengajian,
             mampu bertahan dan     memakmurkan masjid, media silaturahmi, sarana pendidikan agama non-
             sangat dekat dengan    formal, juga memiliki fungsi sosial dan rekreatif. Ibu-ibu yang berstatus rumah
                 masyarakat.
                                    tangga jadi memiliki kegiatan rutin apakah di masjid sekitar rumahnya, di
                                    kelompok aktivitas ibu-ibu, organisasi keperempuanan atau di kantor suaminya.
                                    Ibu-ibu karir yang sibuk dengan pekerjaannya menjadi memiliki sarana untuk
                                    bersilaturahmi dengan tatangga dan masyarakatnya. Lain kata, majlis taklim
                                    adalah ruang yang aman bagi perempuan untuk keluar dari rutinitas mereka di
                                    areal domestik.

                                    Karena jumlahnya yang sangat banyak tersebar di masyarakat dan memiliki
                                    potensi besar untuk pengembangan masyarakat, dibutuhkan koordinasi antar
                                    sesama majlis taklim untuk memaksimalkan fungsinya. Maka, tanggal 1 Januari
                                    1981  dibentuklah  Badan  Kontak  Majelis  Taklim  (BKMT)  oleh  Prof.  Dr.  Tuty
                                    Alawiyah, Rektor Universitas Islam Asy-Syafi’iyah Jakarta sebagai kesepakatan
                                    lebih dari 735 Majelis Taklim yang ada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Secara
                                    organisatoris, BKMT kemudian berkembang ke seluruh wilayah Indonesia dan
                                    mencapai ribuan anggota dengan jutaan orang jama’ahnya yang tersebar di
                                    33 propinsi. Untuk mengembangkan potensi-potensi ekonomi majlis taklim,
                                    BKMT kemudian mendirikan organisasi Perhimpunan Usaha Wanita (PUSPITA)
                                    yang mempunyai sekitar 400 buah Koperasi Jamaah (KOMAH) yang bernaung






                    414
   425   426   427   428   429   430   431   432   433   434   435