Page 433 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 433

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           13   Karena itulah, sejarah penyebaran Kristen dan Islam penuh dengan catatan konflik dari
                masa  klasik  hingga  modern.  Keduanya  sering  berhubungan  dalam  relasi  yang  tidak
                nyaman selama berabad-abad: konflik-konflik awal ketika Islam menyebar ke Eropa,
                dua ratus tahun Perang Salib, kolonialisme Eropa ke masyarakat-masyarakat Muslim,
                proyek orientalisme, sikap dan kebijakan Amerika Serikat terhadap dunia Islam terutama
                di Timur Tengah hingga yang paling mutakhir, isu terorisme. Kontak panjang sejarah ini
                telah menghantarkan pada pembentukan image dimana yang satu mencurigai yang lain
                sepanjang sejarah. Saling kecurigaan itu, dalam pandangan Kristen, perkembangan Islam
                tidak hanya secara historis dikagumi tapi juga dilihat sebagai agama yang berbahaya dan
                menakutkan dunia yang mengancam eksistensi Kristen dan hegemoni Barat. Dunia Islam
                di sisi lain, melihat Barat-Kristen juga memiliki program kristenisasi dan orientalisme yang
                telah berfungsi sebagai senjata intelektual Kristen dan Barat untuk melemahkan Islam
                melalui pengkaburan ajaran-ajaran Islam dan memisahkan kaum Muslimin dari Islam.
                Seperti diakui Bernard Lewis (1993), relasi Islam–Kristen yang sangat panjang ini telah
                diwarnai damai dan juga konflik dan permusuhan. Lebih dari 1.400 tahun, sejak meluasnya
                imperium dan peradaban Islam ke pantai-pantai timur dan barat Mediteranian, sebetulnya
                Islam dan Kristendom telah hidup berdampingan. Pada kesempatan lain, Lewis juga
                mengakui kenyataan bahwa, “selama berabad-abad, bahkan milenium, hubungan antara
                keduanya menunjukkan satu pola saling menaklukan dan saling menyerang.” Ketegangan
                itu, ditambah mitos-mitos dan mispersepsi yang banyak mewarnai sejarah hubungan
                Islam-Kristen yang masih terjadi hingga kini. Salah satu gejala ini dapat ditemukan dalam
                konteks orientalisme. Secara umum, menurut sarjana Muslim dan non-Muslim sendiri,
                para orientalis telah menciptakan–meminjam istilah Lewis– “polusi intelektual” dalam
                pemikiran  Islam  berdasarkan  motif-motif  tersembunyi  orientalisme  dan  keterbatasan
                kapasitas pemahaman Islam mereka. Lihat, Bernard Lewis, Islam and the West, (Oxford
                University Press, 1993), hal.vii.
           14   Banyak ahli melihat konflik sosial, selain tak terhindarkan juga positif. Konflik tidak
                selamanya berkonotasi buruk, tapi bisa menjadi sumber pengalaman positif (Stewart &
                Logan, 1993:342). Tak satupun masyarakat tidak pernah mengalami konflik baik antar
                anggotanya atau dengan kelompok lainnya. Secara sosiologis, konflik hanya akan hilang
                bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Dari sekian banyak pandangan
                para  ahli,  Robbins  (1974)  menjelaskan  tiga  macam  pandangan  tentang  konflik:
                Pertama, pandangan tradisional (traditional view) yang melihat konflik sebagai sesuatu
                yang  buruk,  negatif,  merugikan  dan  harus  dihindari.  Konflik  jenis  ini  terjemahan  dari
                violence, destruction dan irrationality yang terjadi akibat komunikasi yang buruk, kurang
                kepercayaan, tidak ada keterbukaan.Kedua, pandangan hubungan manusia  (human
                relation view). Pandangan ini melihat konflik sebagai hal yang wajar terjadi di dalam
                kelompok atau organisasi. Konflik tidak dapat dihindari karena di dalam kelompok atau
                masyarakat pasti terjadi perbedaan pandangan atau pendapat.Disini konflik harus dicari
                manfaatnyauntuk mendorong peningkatan kinerja, motivasi, inovasi atau perubahan di
                dalam kelompok atau masyarakat. Ketiga, pandangan interaksionis (interactionist view).
                Berbeda dengan dua di atas, pandangan ini justru mendorong suatu kelompok atau
                masyarakat  untuk terjadinya  konflik. Ini  karena kelompok,  organisasi  atau masyarakat
                yang kooperatif, tenang, damai, dan serasi cenderung menjadi statis, apatis, tidak
                aspiratif, dan tidak inovatif. Karenanya, menurut pandangan ini, konflik perlu diciptakan
                dan dipertahankan pada tingkat minimum secara berkelanjutan agar anggota sebuah
                komunitas tetap semangat, kritisdan kreatif.
           15   Banyak pandangan optimis melihat potensi besar Islam Asia Tenggara yang mendorong
                prospek kawasan yang dihuni oleh bangsa Melayu ini. Asia Tengara dianggap potensial
                untuk memimpin masa depan peradaban Islam dunia. Azyumardi menulis Kebangkitan
                Islam akan Muncul dari Melayu (1996); Esposito menulis Islam’s Southeast Asia Shift, A
                Success that could lead renewal in Muslim world (1997); Bassam Tibi menulis ‘Indonesia,
                A Model for the Islamic Civilization in Transition to the 21th Century, Hasbullah menulis
                Krisis Sosial Ekonomi dan Revivalisme Islam Asia Tenggara (1999) dan Asia Tenggara dan
                Konsentrasi  Kebangkitan  Islam  yang Sedang  Bergeser  (2002).  Untuk  bacaan  tentang





                                                                                                 417
   428   429   430   431   432   433   434   435   436   437   438