Page 434 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 434
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
kebangkitan Islam Asia Tenggara, lihat Taufik Abdullah dan Sharon Siddique (ed.), Tradisi
dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES, 1988 dan Saiful Mujani (ed.),
Pembangunan dan Kebangkitan Islam Asia Tenggara LP3ES, 1993. Untuk kajian prospek
dan masa depan Islam Asia Tenggara, lihat Moeflich Hasbullah (ed.), Asia Tenggara dan
Konsentrasi Baru Kebangkitan Islam, (Fokus Media, Bandung, 2003).
16 George Coedès, The Indianized States of Southeast Asia, Australian National University
Press, Canberra, 1975, hal. 253.
17 Clark. D Neher, Politics in Southeast Asia, Schenkman Publishing Company, Inc., Cambridge,
Massachusetts, 1981.
18 Uka Tjandrasasmita (ed), Sejarah Nasional Indonesia III. Edisi ke 4, Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan. Jakarta: Balai Pustaka, 1993, hal.26-27.
19 Arnold, The Preaching of Islam,…..hal.317.
20 Sebuah penggambaran (depiction) dalam sosiologi yang membagi dunia kepada
kelompok dominan (negara-negara industri kapitalis) dan kelompok lain yang terutama
berada di dunia ketiga yang secara politik dan ekonomi posisinya lemah. Ketika pada
abad ke-20, negara-negara dunia ketiga mengalami industrialisasi, sentralisasi politik
dan memiliki organsasi-organisasi politik sipil seperti Eropa Selatan, Amerika Latin dan
negara-negara Asia, tahun 1970an, Wallerstein (1974) kemudian mengenalkan istilah
“semi-periphery”. Lihat David Jary & Julia Jary, Collins Dictionary of Sociology, Second
Edition, HarperCollinsPublishers, 1995, hal. 67. Ketika penggunaan istilah ini meluas,
beberapa orientalis menggunakan “Islam periferal” untuk menggambarkan Islam Asia
Tenggara yang berada jauh dari pusat (Arab, Timur Tengah). Penggunaan ini bagi dunia
Islam sudah banyak dikritik seperti oleh Najib Al-Attas, Hussein Alatas dan Nikki Keddie.
Bahwa Islam bukan soal wilayah geografis tapi ajaran. Azyumardi mengkritik penggunaan
istilah ini: “Bahwa Islam Asia Tenggara adalah periferal secara geografis mungkin benar.
Tetapi, Islam di Asia Tenggara periferal dari segi ajaran harus diuji secara kritis”. Lihat
Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara. Sejarah Wacana dan Kekuasaan, Rosda
Bandung, 1999, hal.5-15. Konsep “periferal” berdampak luas pada “ilegalisasi” budaya
Islam. Banyak kalangan (orientalis maupun kalangan internal Muslim sendiri) menganggap
“Islam yang asli” adalah Islam Arab yang berwarna Wahhabi. Khazanah kebudayaan Islam
yang kaya dan luas di luar dunia Arab dianggap budaya Islam periferal yang tidak asli,
sinkretis, campur aduk dll. Inilah yang membuat Geertz menyebut tradisi abangan di Jawa
atau Islam kejawen sebagai tradisi Hindu yang tidak berasal dari Islam. Pandangan Geerzt
banyak menuai kritik terutama dari Hodgson (1974) dan kemudian diikuti oleh para sarjana
lain. Lihat Marshall G.S.Hodgson, The Venture of Islam. Conscience and History in A World
Civilization. Vol. 2, Chicago: University of Chicago Press, 1974, hal.551. Adapun tentang
Islam Jawa sesungguhnya adalah budaya Islam, lihat Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya
Jawa, Penerbit Teraju, 2003; Mark R Woodward, Islam Jawa. Kesalehan Normatif versus
Kebatinan, LKiS, 1999; Mark R Woodward, Java, Indonesia and Islam, Springer Dordrecht
Heidelberg London New York, 2010.
21 Lihat Coedès, The Indianized States,…….
22 Lihat Arnold, The Preaching of Islam,….. Harry W Hazard, Atlas of Islamic History,
Princeton University Press, 1954; W. P. Groeneveldt, Historical Notes on Indonesia and
Malaya, Compiled from Chinese Sources [Paperback], C.V. Bhratara, 1960; Muhammad
Naguib Syed Al-Attas, Preliminary statement on a general theory of the Islamization
of the Malay-Indonesian Archipelago, Siri Pengetahuan Umum DBP Publis her, Dewan
Bahasa dan Pustaka, 1969; G.E.Gerini, Researches on Ptolemy’s Geography of Eastern
Asia (Further India and Indo-Malay Archipelago), Asiatic Society Monographs, No.1,
Munshiram Manoharlal Publishers Pvt Ltd, New Delhi, 1974; dan A.Hasymi, Sejarah Masuk
dan Berkembangnya Islam di Indonesia. Kumpulan Prasaran pada Seminar di Aceh, PT. Al-
Ma’arif, 1993.
23 Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada University Press, 1993, hal.3.
24 Lihat Groeneveldt, Historical Notes on Indonesia,…hal.14; Tjandrasasmita (ed), Sejarah
Nasional,…hal.1. lihat juga Michael Francis Laffan, Islamic Nationhood and Colonial
Indonesia. The Umma Below the Wind, RoutledgeCurzon, London and New York, 2003.
418

