Page 416 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 416
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Suasana LMD Salman ITB. Semua
alumni training ditugaskan
untuk mengembangkan
dan menghidupkan aktifitas
keislaman masjid kampus ketika
kembali ke kampusnya masing-
masing.
Sumber: Dokumentasi Masjid Salman
Intensifikasi keberagamaan kaum terpelajar ini secara sosiologis diperkuat oleh
konteks kebangkitan Islam global yang secara signifikan memperkuat citra
dan identitas umat Islam. Sejak abad ke-18 sampai pergantian milenium baru,
dunia Islam yang membentang dari Maroko di Afrika Utara hingga Merauke di
Indonesia, merayakan ide dan pesta kebangkitan Islam. Gerakan ini bervariasi dari
yang berbentuk gerakan pemikiran sampai gerakan politik, dari yang anti-Barat
sampai yang menceburkan diri dalam modernitas Barat. Memasuki abad ke-20,
gema gerakan kebangkitan diperkuat lagi dengan banyaknya aktivis-aktivis Islam
menguasai dan mengendalikan politik pemerintahan negaranya masing-masing.
Pan-Islamisme Jamaluddin Al-Afghani banyak dibicarakan kembali sebagai cita-
cita untuk mempersatukan kembali dunia Islam. Kemunculan tokoh-tokoh lain
seperti Muhammad Iqbal (1875-1938) dan Abul A’la Al-Maududi (1903-1979)
di Pakistan, Sayyid Qutb (1906-1966) di Mesir, Ali Syari’ati (1933-1977) di Iran,
serta Muammar Qaddafi, Isma’il Al-Faruqi, Fazlur Rahman, Imam Khomeini
dan figur-figur lainnya memberikan suntikannya tersendiri. Buku-buku mereka
seperti “Langkah-langkah Pembaharuan Islam”-nya Maududi, “Islam Agama
yang disalahmengertikan”-nya Sayyid Qutb dan “Jahiliyah Modern”-nya
Muhammad Qutb, banyak dibaca sebagai alternatif dari para pemikir Islam
Indonesia yang terbaratkan bahkan dalam tingkat tertentu tersekulerkan. John
Esposito (1983) menyebut mereka sebagai “voices of resurgent Islam” (para juru
bicara kebangkitan Islam). Di dalam negeri, terdapat pula terbitan-terbitan dari
gerakan dakwah seperti Media dakwah-nya DDII, Risalah-nya Persis, Salman Kau-
nya Salman, kemudian yang agak moderat tapi juga dalam konteks semangat
Islam adalah Pesantren, Amanah dan ‘Ulumul Qur’an. Semangat kembali kepada
Islam dan menjadi Islam sebagai jalan hidup (way of life) memenui ruang publik
gerakan dakwah Islam. Dasar perjuangan LDK pun dirumuskan: “Perjuangan
400

