Page 411 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 411

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           mulai terbentuk ini adalah kelas masyarakat terdidik, umumnya adalah kaum
           profesional, modernis, aktif dalam kegiatan sosial, ekonomi dan kebudayaan,
           dan tidak tertarik lagi kepada orientasi politik lama (ideologi dan negara Islam).
           Dampak politik dari orientasi baru yang kultural ini adalah munculnya hubungan
           yang lebih baik dan fungsional antara komunitas Islam dengan pemerintah sejak
           akhir tahun 1980an.


           Sejak itu, dakwah mengalami diferensiasi yang luas dan terjadi apa yang disebut
           Ricklefs “islamisasi yang lebih mendalam.”  Menyusul Sumatra, Sunda, Bugis
                                                   47
           dan Madura sebagai wilayah-wilayah kultural yang sudah lama identik dengan
           Islam, masyarakat Jawa, etnis terbesar di Indonesia, di pedesaan maupun di
           kota-kota, mengalami Islamisasi yang masif sejak dasawarsa terakhir era
           kekuasaan Orde Baru. Gerakan dakwah mengalami mobilisasi vertikal, bukan       Dampak politik dari
                                                                                          orientasi baru yang
           lagi hanya aktifitas di masyarakat tetapi menembus struktur pemerintahan Orde   kultural ini adalah
           Baru. Presiden Soeharto yang sebelumnya kental dengan tradisi abangan Jawa    munculnya hubungan
           dan “pada dasarnya memusuhi Islam”  mulai menunjukkan kemuslimannya:           yang lebih baik dan
                                                48
                                                                                           fungsional antara
           mendukung pendirian ICMI dan meresmikannya pada 6 Desember 1990, naik            komunitas Islam
           haji tahun 1991 yang menolak dibiayi negara, meresmikan Bank Muamalat, dan     dengan pemerintah
                                                                                           sejak akhir tahun
           sebagainya. Sebagai penguasa, perubahan ini banyak dilihat sebagai langkah-     1980an. Sejak itu,
           langkah politik, tetapi sebagai manusia yang usianya semakin tua, Soeharto pun   dakwah mengalami
           mengalami peningkatan relijusitas. Birokrasi Orde Baru yang mengalami “ijo      diferensiasi yang
                                                                                          luas dan terjadi apa
           royo-royo” tahun 1990an dianggap sebagai wafatnya dominasi kaum abangan        yang disebut Ricklefs
           Jawa dalam struktur pemerintahan Orde Baru.                                   “islamisasi yang lebih
                                                                                             mendalam.”
           Menangkap pergeseran religiusitas Soeharto, kaum birokrat, teknokrat, kaum
           profesional, kelas menengah, organisasi massa, kelompok seniman dan artis-
           selebritis menyatakan keislamannya secara terbuka. Karena wajahnya yang
           ramah dan tidak mengganggu stabilitas rezim Orde Baru, Islam kultural
           menimbulkan simpati dari Presiden Soeharto dan jajaran pemerintahannya. Jeff
           Lee (2004) menggambarkan, komunitas Muslim yang sedang tumbuh ini percaya
           diri bahwa seseorang dapat menjadi Muslim yang baik tanpa harus mendukung
           negara Islam. Islam kultural, kata Lee, menunjukkan dirinya sebagai kekuatan
           politik moderat tapi taat pada agama. Dalam pemilu, kelompok ini cenderung
           memilih partai-partai yang moderat dan identitas keislaman partai dipandang
           tidak terlalu penting. Karena pengaruh luas Islam kultural menembus batas-
           batas organisasi sosial-politik dan sekat-sekat kelompok, orang Islam menjadi
           ada dimana-mana. Intensifikasi Islam tidak hanya terjadi di kalangan elit tapi
           juga di masyarakat pedesaan.
                                      49

           Hefner tampak terkesan dengan perubahan kesadaran Islam yang terjadi di
           masyarakat Jawa dalam acara slametan atau kenduri yang ia temukan dari
           Kim, seorang peneliti Korea, dalam disertasi antropologisnya di The Australian
           National University (ANU). Kim melaporkan:








                                                                                                 395
   406   407   408   409   410   411   412   413   414   415   416