Page 408 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 408

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Islam, Soeharto justru melanjutkan kekecewaan umat pada negara. Soeharto
               Gerakan dakwah
            menghadapi tantangan    melihat Islam sebagai ancaman terhadap kekuasaannya. Hingga tahun 1980-
              politik yang cukup    an, Soeharto adalah “pemelihara nilai-nilai abangan Jawa, selalu menganggap
               berat baik masa      musuh pada siapa saja yang berkehendak meluaskan pengaruh Islam dalam
              Orde Lama maupun      masyarakat dan politik Indonesia”.  Melanjutkan ketidakberpihakannya
                                                                         38
              Orde Baru. Gerakan
             dakwah menghadapi      kepada Islam era Sukarno, Soeharto membuat frustrasi kalangan Islam dengan
            tantangan politik yang   keputusan-keputusan politiknya yang mengecewakan. Ia menolak rehabilitasi
            cukup berat baik masa   Masyumi pada 1968. Walaupun tuntutan rehabilitasi berulang-ulang disuarakan,
              orde lama maupun
              orde baru. Pada era   atas dukungan militer, Soeharto tetap pada sikapnya. Tidak hanya itu, pelarangan
              Sukarno, Masyumi      ini diikuti oleh sikap membatasi para aktifis Masyumi dalam partai politik yang
             dibudarkan dan para    baru terbentuk yaitu Parmusi (Partai Muslimin Indonesia).
               tokoh-tokohnya
              dipenjarakan tanpa
            proses hukum. Pada era   Beberapa tahun kemudian, pemerintah juga mengundang kemarahan kalangan
             Orde Baru, Soeharto
             melihat Islam sebagai   Islam ketika mengajukan draft Undang-undang Perkawinan 1975 yang dianggap
              ancaman terhadap      sekuler. Kalangan Islam berdemonstrasi memprotes UU itu bersama mahasiswa,
                kekuasaannya.       sampai akhirnya persidangan dalam gedung DPR memodifikasi beberapa pasal
                                    untuk memenuhi tuntutan yang disuarakan oleh Partai Persatuan Pembangunan.
                                    Satu dekade kemudian, dan ini dirasakan yang paling melukai perasaan umat,
                                    di bawah komando Jenderal Beni Moerdani, rezim Soeharto membantai ratusan
                                    kaum Muslimin dalam peristiwa Tanjung Priok tahun 1984 yang hingga kini
                                    belum terungkap.  Tahun 1985, pemerintah melarang penggunaan dasar Islam
                                                     39
                                    bagi semua partai politik dan organisasi masa dan mewajibkan pencantuman
                                    ideologi negara yaitu Asas Tunggal Pancasila.

                                    Selama lebih dari 30 tahun, politik negara mendominasi kekuatan politik rakyat.
                                    Begitu hegemoniknya kekuasaan Soeharto, pengaruhnya menyentuh hampir
                                    setiap relung hati dan sudut kehidupan masyarakat dan kalangan Islam berada
                                    dalam posisi yang tak berdaya. Soeharto membangun kekuasaannya melalui
                                    tiga jalur ampuh: militer, birokrasi dan Golongan Karya. Dengan politik negara
                                    yang begitu kuat, hubungan antara negara dan masyarakat menjadi hegemonik.
                                    Dihadapkan pada karakter kekuasaan seperti ini dan kenyataan bahwa sebagian
                                    aktor politik non-Muslim menduduki posisi-posisi penting dalam lingkaran elit
                                    Orde Baru, banyak aktifis Islam berkesimpulan bahwa “pemerintahan Orde Baru
                                    telah dibajak oleh aliansi katolik Cina yang anti Islam, mantan aktifis sosialis
                                    PSI dan pejabat militer. Banyak telunjuk mengarah pada Jenderal Ali Murtopo
                                    sebagai  mastermind  di  balik  kebijakan-kebijakan  tersebut.”   Mengamati
                                                                                                 40
                                    pemerintahan otoriter Soeharto, Wertheim (1975) berkesimpulan:

                                          Umat Islam di Indonesia benar-benar merasa frustrasi. Bukan saja tidak
                                          mampu meningkatkan posisi politik sejak kejatuhan Sukarno; Islam juga
                                          telah dijauhkan dari posisi-posisi politik, berbeda dengan peran mereka
                                          sendiri ketika zaman kolonial. Bagi umat Islam, rezim Soeharto telah
                                          menjadi “neo-kolonialis.” Seperti halnya pemerintah kolonial, pemerintah








                    392
   403   404   405   406   407   408   409   410   411   412   413