Page 407 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 407
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Al-Sinkili, ‘Abd Al-Shamad Al-Palimbani, Yusuf Al-Makassari dan lainnya
36
35
yang terlibat dalam wacana intelektual yang produktif. Para sufi-intelektual ini,
terlibat dalam mainstream gagasan “neo-sufisme” yang mengkritik gagasan-
gagasan sufisme klasik yang berkembang pada abad tersebut yang cenderung
berorientasi eskapistik, heretikal dan heterodoks. Neo-sufisme menekankan
pentingnya syari’at dalam praktik tasawuf.
37
Abad ke-19, ketika Islam sudah tersebar dan menjadi mayoritas penduduk
Nusantara, isu utama bukan lagi dakwah penyebaran Islam tapi beralih lebih
banyak menghadapi tantangan-tantangan kolonial disebabkan kebijakan Abad ke-19, panggung
Tanam Paksa (cultuurstelsel) hingga masa kemerdekaan. Abad ke-19, panggung sejarah Indonesia
sejarah Indonesia banyak diwarnai gerakan-gerakan pemberontakan melawan banyak diwarnai
gerakan-gerakan
Belanda baik di Maluku, Sumatra Barat. Jawa Tengah dan Timur, Sulawesi pemberontakan
Selatan, Kalimatan Selatan, Bali dan Aceh. Selain itu, pada periode inilah melawan Belanda
baik di Maluku,
Islam Indonesia mengalami dua konsolidasi penting:Pertama, konsolidasi Islam Sumatra Barat. Jawa
dalam menghadapi penjajahan kolonial. Pada abad inilah terjadi beberapa Tengah dan Timur,
pemberontakan dan perlawanan terhadap kolonial yang dipimpin para ulama Sulawesi Selatan,
Kalimatan Selatan,
terhadap pemerintah Belanda seperti Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Bali dan Aceh. Pada
Diponegoro (1825 – 1830). Selama lima tahun, perang ini telah menyulut periode inilah Islam
perlawanan rakyat hampir di tanah Jawa; Perang Paderi di Sumatera Barat yang Indonesia mengalami
dua konsolidasi
dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai dan Tuanku nan Cerdik, penting: Pertama,
berturut-turut dari tahun 1821 sampai tahun 1837; Perang Sumatera dan konsolidasi Islam
Kalimantan (1821 – 1838); Perang Banjarmasin (1857 – 1862). Pemberontakan dalam menghadapi
Petani Banten tahun 1888; dan Perang Aceh yang dipimpin oleh Cut Nyak Dien penjajahan kolonial.
Kedua, abad ke-19
dari tahun 1873 sampai 1942. Kedua, abad ke-19 adalah basis sosial-politik bagi adalah basis sosial-
kemunculan organisasi-organisasi dakwah Islam dan organisasi politik modern politik bagi kemunculan
pada abad ke-20 hingga menjelang kemerdekaan Indonesia. organisasi-organisasi
dakwah Islam dan
organisasi politik
modern pada abad ke-
20 hingga menjelang
kemerdekaan
Indonesia.
Dakwah Islam Kontemporer
Pada masa kontemporer, terutama era pasca kemerdekaan, gerakan dakwah
menghadapi tantangan politik yang cukup berat baik masa Orde Lama maupun
Orde Baru. Setelah banyak menerima pil pahit di Era Sukarno yang dirasakan
para tokoh Masyumi, dari digagalkannya klausul syari’at Islam dalam konstitusi
(Piagam Jakarta) hingga dibubarkannya Masyumi serta dipenjarakan tokoh-
tokohnya tanpa proses hukum, di era Orde Baru, Orde yang didukung oleh umat
Islam sendiri karena harapan akan perubahan yang lebih simpatik pada kalangan
391

