Page 417 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 417

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           LDK didasarkan pada Islam sebagai agama Allah dan sebagai jalan hidup, dan
           LDK akan bersatu atas dasar ikatan syahadat.”                                   Semangat kembali
                                                                                           kepada Islam dan
                                                                                         menjadi Islam sebagai
           Revolusi Islam Iran tahun 1979 menambah energi kebangkitan Islam di sisi       jalan hidup (way of
                                                                                          life) memenui ruang
           lain.Suksesnya revolusi Islam Iran telah memberikan dorongan psikologis yang   publik gerakan dakwah
           besar bagi gerakan masjid yang sedang tumbuh di dalam negeri dalam bentuk    Islam. Dasar perjuangan
           transmisi psikologis seperti harga diri umat dan identitas baru. Para perempuan   LDK pun dirumuskan:
                                                                                           “Perjuangan LDK
           Muslim di Indonesia dan Malaysia, terutama para mahasiswa aktifis kampus,     didasarkan pada Islam
           dikejutkan  dan  disadarkan secara  psikologis  oleh wanita-wanita Iran yang   sebagai agama Allah
           dengan busana muslimahnya yang tertutup tetapi berhasil mengusir dominasi       dan sebagai jalan
           dan pengaruh Amerika Serikat dari negaranya. Jilbab yang di Barat dipandang    hidup, dan LDK akan
                                                                                           bersatu atas dasar
           sebagai simbol represi, ketertinggalan dan konservatisme kaum perempuan,        ikatan syahadat.”
           tetapi setelah revolusi, jutaan wanita Iran yang mengenakannya dengan penuh
           kebanggaan, secara terus-menerus di shoot di media Barat (televisi-televisi dan
           majalah)  merayakan  pesta  kemenangannya  menjatuhkan  harga  diri  Amerika
           Serikat melalui penggulingan rezim Reza Pahlevi. Revolusi Iran telah menjadi
           suntikan kuat bagi peneguhan harga diri, percaya diri dan identitas baru bagi
           para aktifis gerakan dakwah. Efek jilbab wanita-wanita Iran kemudian menyebar
           melalui jaringan masjid kampus dan meluaskan pengaruhnya ke berbagai
           lapisan masyarakat. Mengenakan busana Muslim sejak itu menjadi kebanggaan
           dan peneguhan identitas.


           Fenomena busana Muslimah sebagai bentuk kesadaran kembali kepada identitas
           Islam pun secara perlahan berkembang menjadi  trademark gerakan dakwah
           tahun 1980/90an. Busana muslimah yang dikenakan terus-menerus di berbagai
           tempat  (masjid,  sekolah,  kampus,  ruang  kelas,  tempat-tempat  hiburan,  mal-
           mal, lapangan olah raga dan seterusnya) akhirnya membentuk apa yang disebut
           Bourdieu sebagai ‘habitus’ yaitu “sistem pengulangan ekspresi penampilan yang
           kemudian berkembang menjadi struktur sosial yang berfungsi menstrukturkan
           struktur baru. Sistem pengulangan itu kemudian menggenerasi menstruksturkan
           praktek-praktek representasi yang secara obyektif terus berlangsung.”
                                                                            59

           Ketika habitus itu dilakukan oleh kelompok Muslim yang sedang mengalami
           kemakmuran ekonomi sebagai hasil dari pembangunan Orde Baru, busana
           muslimah kemudian menjadi identitas kelas baru, kelas menengah Muslim.
                                                                                   60
           Namun, pengaruh gerakan Islam internasional yang lebih kuat pada gerakan
           dakwah  harakah  adalah  Ikhwanul  Muslimun.  Pengaruh  ideologi  Ikhwan  ini
           pertama  kali  masuk  melalui  DDII  (Dewan  Dakwah  Islam  Indonesia)  dengan
           tokohnya Mohammad Natsir yang kemudian menjadi agen penyebaran metode
           dakwah Ikhwanul Muslimun. Pengaruh Ikhwan ini kemudian memunculkan
           gerakan tarbiyah yang menekankan gerakan sosial pendidikan yang didasarkan
           pada jaringan  usrah yang kuat di masjid-masjid kampus sekuler. Berdirinya
           Lembaga  Ilmu  Pengetahuan  dan  Bahasa  Arab  (LIPIA)  di  Jakarta  tak  bisa
           dilepaskan dari pengaruh Ikhwanul Muslimun. Pengaruh Ikhwan juga masuk
           ke  Pelajar  Islam  Indonesia  (PII)  yang  menolak  Asas  Tunggal  Pancasila  dalam





                                                                                                 401
   412   413   414   415   416   417   418   419   420   421   422