Page 491 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 491
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
antara beberapa nama tersebut, M. Dawam Rahardjo adalah salah seorang yang
berpengaruh dalam program pengembangan pesantren. Terhitung sejak tahun
1976, Dawam memimpin langsung proyek pemberdayaan masyarakat melalui
pesantren. Bukan tanpa alasan, Dawam Rahardjo ditunjuk sebagai pimpinan
proyek. Faktanya, di antara beberapa individu yang bergabung di LP3ES pada
awal 1970-an, Dawam adalah satu-satunya orang yang mengenal dunia
pesantren. Ia pernah menjadi santri di Pesantren Krapyak, sambil menempuh
pendidikan formalnya di Fakultas Ekonomi UGM (Universitas Gadjah Mada).
Dan di masa itu, Dawam adalah satu dari sedikit orang yang memiliki semangat
pengintegrasian pengetahuan umum dan agama, termasuk ketika mencari ide
pengintegrasian pesantren dan masyarakat dalam kerangka pembangunan.
38
Program pengembangan pesantren ini dimunculkan sebagai bagian dari upaya
LP3ES dalam mendorong suatu gerakan partisipatif masyarakat. Tentang ini,
39
Dawam menjelaskan,
”Dalam sejarahnya, pesantren berkembang dengan sangat lambat, melihat
dunia luar sebagai sesuatu yang kurang bermanfaat dan membahayakan
dirinya. Padahal, pesantren merupakan pintu masuk paling efektif bagi
program pemberdayaan masyarakat. Itulah mengapa yang pertama kali
saya lakukan adalah membuat pusat informasi di Tebuireng dan mendirikan
perpustakaan di Pabelan. Dengan itu saya berharap mereka mampu
mengubah pemikiran mereka dan segera berubah melihat dunia. Setelah
pusat informasi atau perpustakaan, selanjutnya dibuat forum diskusi,
sehingga dari sana muncul ide-ide perubahan. Itu yang kita dorong dan
fasilitasi, merealisasikan gagasan perubahan yang mereka usung. Dalam
hal ini kita tidak ikut campur, jadi kita membiarkan mereka yang bekerja
sendiri, baik mencari sumber daya maupun menentukan persoalan mana
yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu. Hal itu karena mereka lebih
paham kondisi mereka sendirinya. ” 40
Agenda pengembangan masyarakat melalui pesantren itu dimungkinkan
atas bantuan dari Friedrich Nauman Stiftung, sebuah lembaga bantuan dari Untuk pertama
Jerman. Awal mula kedekatan LP3ES dengan dunia pesantren terjadi pada kalinya pesantren
disebut sebagai
sebuah seminar tentang partasipasi pesantren dalam pembangunan, yang jalur potensial bagi
diselenggarakan secara bersama oleh LP3ES dan Majalah Mingguan Tempo. upaya pembangunan
tingkat lokal. Sejak
Untuk pertama kalinya pesantren disebut sebagai jalur potensial bagi upaya itulah LP3ES memulai
pembangunan tingkat lokal. Sejak itulah LP3ES memulai program penelitian program penelitian
mengenai pesantren dan potensinya dalam pembangunan. Taufik Abdullah mengenai pesantren
41
melakukan observasi ke beberapa pesantren di pulau Jawa di sekitar tahun dan potensinya dalam
pembangunan.
1973.
42
475

