Page 492 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 492

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Di tahun yang sama, LP3ES pernah membuat penelitian lapangan pada Maret
                                    1973, bekerja sama dengan Pusat Da’wah Islam dan Pendidikan Tinggi Da’wah
                                    Islam, Jakar ta. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan data dasar serta
                                    keterangan komprehensif mengenai Pesantren Al-Falak, Pa gentongan, Bogor
                                    serta pendapat dan gambaran mengenai pesantren dari kelompok-kelompok
                                    masyarakat di sekitar dela pan pesantren dan 42 desa di Bogor, yaitu dari
                                    para kyai, ustad, santri, alumni, pejabat pemerintah, pemuka masyarakat,
                                    dan orang-orang awam yang umumnya kaum tani dan pedagang. Kuesioner
                                    untuk mendapatkan data kuantitatif disusun bersama dengan 13 orang ustad
                                    dan santri senior dengan desain riset di bawah pimpinan M Zamroni, Sudjoko
                                    Prasodjo, M Mastuhu, M Dawam Rahardjo, dan Sardjono Goenari. Wawancara
                                    mendalam juga dilakukan oleh  Sudjoko Prasodjo,  Nurcholish Madjid dan M.
                                    Dawam Rahardjo. Penelitian lapangan tersebut dikerjakan oleh 13 orang
                                    dari pesantren, dibantu sepuluh orang mahasiswa dari Jakarta. Penelitian itu
                                    menghasilkan laporan beserta apendiks data kuantitatif yang diberi judul “Profil
                                    Pesantren: Laporan Hasil Penelitian Pesantren Al-Falak dan Delapan Pesantren
                                    Lain di Bogor.”
                                                  43
                                    Awal Desember 1973, LP3ES menyelenggarakan seminar yang diikuti oleh 36
                                    orang terdiri dari pimpinan 18 pesantren penting di Jawa— Abdurrahman Wahid
                                    dan  Yusuf  Hasyim  juga  hadir  dalam  kesempatan  itu—serta  beberapa  orang
                                    ahli dari berbagai lembaga pendidikan. Dalam seminar dibahas beberapa hasil
                                    penelitian dan model proyek Pesantren Al-Falak yang telah dilaksanakan LP3ES.
                                    Dari seminar itu pula diperoleh data dan informasi mengenai 18 pesantren serta
                                    aspirasi dan saran dari pimpinan pesantren mengenai perkembangan pesantren.
                                    Atas inisiatif peserta seminar kemudian dibentuk sebuah organisasi profesional
                                    yang dinamakan “Lembaga Konsultasi Pondok Pesantren (LKPP).” Dari lembaga
                                    itu diharapkan model-model kerja yang telah dirintis oleh LP3ES dapat diambilalih
                                    dan dikembangkan. Lembaga itu juga diharapkan dapat menjadi counterpart
                                    proyek-proyek LP3ES yang kelak diselenggarakan.
                                                                                    44

                                    Waktu itu, fokus LP3ES terbatas hanya pada agenda penelitian dan komunikasi
                                    dan tidak ada upaya melakukan campur tangan langsung ke pesantren. Justru
                                    saat itu, pemerintah yang berupaya melakukan intervensi ke pesantren. Mukti
                                    Ali, kala itu menjabat sebagai Menteri Agama, begitu aktif melakukan intervensi
                                    ke pesantren. Menjadi tugasnya kala itu merajut relasi antara departemen yang
                                    ia pimpin dengan NU dan dunia pesantren. Figur Mukti Ali dipandang tepat
                                    melakukan hal itu karena pada dasarnya ia merupakan sosok yang sudah akrab
                                    dengan dunia pesantren. Ia pernah belajar di sebuah pesantren terkenal di
                                    Tremas, Pacitan. Salah satu bentuk intervensi pemerintah ke dunia pesantren
                                    adalah menyatukan dunia pesantren ke dalam sistem pendidikan nasional.
                                    Produk utama intervensi ini adalah munculnya Keputusan Bersama Tiga Menteri
                                    (Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan dan Menteri Agama), dikeluarkan
                                    pada tahun 1974, yang menyetarakan tiga tingkat pendidikan madrasah
                                    (Ibtida’iyah, Tsanawiyah, dan Aliyah), dengan SD, SMP dan SMA. 45





                    476
   487   488   489   490   491   492   493   494   495   496   497