Page 493 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 493
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Terlepas dari apa yang dilakukan pemerintah melalui Kementerian Agama saat
itu, LP3ES, dengan bantuan penuh dari NFS, tetap melancarkan beragam program
penelitian mengenai pesantren dan potensinya dalam pembangunan. Hingga
tahun 1974, LP3ES telah berhasil merampungkan tiga proyek pengembangan
pesantren, yakni Pesantren Al-Falak di Pagentongan, Bogor, Jawa Barat, Pesantren
Pabelan, Muntilan, Jawa Tengah, dan Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa
Timur. Adapun, Pesantren Maslaqul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah, Pesantren
Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, Pesantren An-Nuqoyah Guluk-Guluk,
Madura, Jawa Timur, Pesantren Darunnajah, Jakarta adalah beberapa pesantren
lain yang juga menjadi target riset LP3ES. Di beberapa pesantren tersebut, LP3ES
berhasil mengembangkan lembaga pengembangan masyarakat, sebagai bagian
dari peningkatan peran pesantren, dalam pengembangan ekonomi masyarakat
(Biro Pengembangan Pesantren dan masyarakat—BPPM) dan pengembangan
koperasi pondok pesantren.
Namun, sesuai kebijakan yang berlaku kala itu, FNS tidak dapat membiaya
Perhimpunan
suatu proyek lebih dari sepuluh tahun kepada satu lembaga tertentu. Itulah Pengembangan
mengapa di tahun 1983, sebuah LSM baru untuk pengembangan masyarakat Pesantren dan
melalui pesantren didirikan, yakni Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)
Masyarakat (P3M). Mengambil Ibukota Jakarta sebagai basis pergerakan, didirikan pada 18
46
Mei tahun 1983.
P3M didirikan pada 18 Mei tahun 1983. Pembentukan P3M didasarkan pada Dari sekian banyak
tiga hal: Pertama, pesantren adalah lembaga pendidikan, dakwah dan sosial pendiri P3M, terdapat
yang dianggap berpengaruh bagi perubahan masyarakat ke arah yang lebih nama Abdurahman
Wahid (NU), M.
maju, baik pendidikan maupun kesejahteraan; Kedua, banyak pesantren yang Dawam Rahardjo
telah terbukti dapat melaksanakan program kreativitas santri dan masyarakat (Muhammadiyah) dan
seperti pengembangan ekonomi mandiri, agribisnis dsb; Ketiga, program Utomo Dananjaya
(Persis). Hal ini
pengembangan pesantren yang sudah berjalan perlu ditingkatkan kembali guna mengindikasikan
berpengaruh lebih besar bagi masyarakat. Adapun peran P3M yang diharapkan bahwa P3M bukan
ketika didirikan adalah: Pertama, menampung ide dan gagasan dari pesantren hanya NU yang diwakili
Gus Dur, tetapi juga
dan masyarakat. Kedua, mengkaji permasalahan sosial dan agama serta Muhammadiyah yang
mengolah gagasan-gagasan dari pesantren dan masyarakat untuk dijadikan diwakili Dawam, dan
program kerja. Ketiga, sebagai fasilitator bagi pelaksanaan pengembangan dari PERSIS yang diwakili
dan untuk pesantren/masyarakat. Utomo Dananjaya.
Pada awal berdirinya, P3M terbuka bagi semua sub-kultur Islam di Indonesia:
Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Islam (PERSIS) dan
yang lainnya. Hal ini dapat dilihat dari para pendirinya. Dari sekian banyak
pendiri P3M, terdapat nama Abdurahman Wahid (NU), M. Dawam Rahardjo
(Muhammadiyah) dan Utomo Dananjaya (Persis). Hal ini mengindikasikan bahwa
P3M bukan hanya NU yang diwakili Gus Dur, tetapi juga Muhammadiyah yang
diwakili Dawam, dan PERSIS yang diwakili Utomo Dananjaya. Ketiga tokoh
47
ini bertemu dalam diskusi-diskusi yang bertema pembaruan karena memang
ketiganya mempunyai bakat mengembangkan ide-ide pembaruan Islam dan
kaitannya dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Dari perhatian tersebut,
mereka melihat pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang dapat
477

