Page 498 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 498

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    LP3ES  (1980-1986).  Di  pertengahan  masa  kepemimpinannya,  Dawam  berpikir
                                    bahwa tidak cukup gerakan pemberdayaan masyarakat difokuskan pada ranah
                                    aktivitas fisik. Menurutnya, gerakan tersebut harus diimbangi dengan penguatan
                                    pemikiran masyarakat, utamanya dalam memahami nilai-nilai keagamaan dalam
                                    kenyataan  (value in action).  Karena  itu,  wujud  kegiatan  LSAF  di  masa  awal
                                    mengambil dua bentuk. Pertama, gerakan pemikiran; menerbitkan Jurnal Ilmu
                                    dan Kebudayaan Ulumul Qur’an (UQ) dan buku-buku kajian pemikiran. Kedua,
                                    dengan pengembangan masyarakat dan aksi sosial (social action).

                                    Tentang  Ulumul  Qur’an,  jurnal  yang  pertama  terbit  tahun 1989  ini  menjadi
                                    wadah penyebaran gagasan intelektual Islam yang mencerahkan. Ulumul Qur’an
                                    mengambil segmen kelas menengah intelektual Muslim dan menampilkan
                                    model jurnal pemikiran yang serius. Kalau dilihat dari isinya, jurnal ini memiliki
                                    bobot keilmiahan yang paling tinggi pada masanya.   56  Selain melalui  Ulumul
                                    Qur’an, gerakan pemikiran LSAF didukung oleh beberapa terbitan buku yang
                                    dikelola oleh LSAF Press.
                                                           57
                                    Dalam  konteks  pengembangan  masyarakat  dan  aksi  sosial  (social action),
                                    beberapa program telah dilakukan LSAF, di antaranya program penguatan civil
                                    society  di Indonesia, terutama  civil society yang berbasiskan pemikiran dan
                                    gerakan keagamaan  (1997-2000); Transformasi Jaringan Islam Kampus untuk
                                    Penegakan Hak-hak Sipil Keagamaan di Indonesia (2006-2009); Pesantren Ramah
                                    Anak/PRA  (2007);  Pendidikan  Menghidupkan  Nilai  (2009);  dan  Pendidikan
                                    Multikulturalisme di Sekolah (2011), dan beberapa program lain.
                                                                                                 58

                                    Melalui LSAF, Dawam semakin dikenal sebagai sosok yang sangat berpengaruh
                                    dalam peta pemikiran Islam di Indonesia. Melalui LSAF, dan tentu LP3ES, Dawam
                                    menjadi  mentor  tokoh-tokoh yang  sekarang  memimpin  pemikiran  Islam di
                                    Indonesia, seperti Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, Bahtiar Effendy, dan
                                    Fachry Ali. Pun melalui LSAF, aktivis-aktivis Islam, seperti M. Syafii Anwar, Saiful
                                    Mujani, A. Rifai Hasan, Ihsan Ali-Fauzi, Budhy-Munawar, dan beberapa aktivis
                                    Islam lainnya muncul dan akhirnya mewarnai peta Islam di Indonesia.
            Selain LSAF, Paramadina
            adalah komunitas yang   Selain LSAF, Paramadina adalah komunitas yang juga menfokuskan gerakannya
              juga menfokuskan
            gerakannya pada ranah   pada ranah budaya, khususnya dalam domain pemikiran. Sejatinya, inisiatif
              budaya, khususnya     pendirian Paramadina datang bukan langsung dari Nurcholish Madjid (Cak Nur)
                dalam domain        melainkan dari seorang M. Dawam Rahardjo di sekitar awal tahun 1984. Sebagai
             pemikiran. Majelis ini   Direktur LP3ES kala itu, Dawam yang sebelumnya telah mendirikan LSAF (1983),
              merupakan tempat
               para tokoh lintas    berinisiatif untuk mendirikan sebuah forum yang lebih besar dari Majelis Reboan.
             agama berkumpul dan    Majelis ini merupakan tempat para tokoh lintas agama berkumpul dan berdiskusi
               berdiskusi dengan    dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai mentornya. Majelis ini bermarkas
             Abdurrahman Wahid
               (Gus Dur) sebagai    di kantor Mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Ekky Syahruddin, PT.
                 mentornya.         PAN Asia, Jakarta. Ide Dawam selanjutnya direspons positif oleh Ekky Syahruddin
                                    dan Utomo Dananjaya (Pelajar Islam Indonesia/PII). Cak Nur sendiri kala itu masih






                    482
   493   494   495   496   497   498   499   500   501   502   503