Page 211 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 211

14
                        melihat  objek  yang  berjarak  lebih  dari  tiga  mil  dari  pinggir  pantai.   Selain  itu

                        juga,  pandangan  ini  dipengaruhi  prinsip  mare  liberium  (lautan  bebas),  asas

                        perdagangan  bebas  dan  kebebasan  bernavigasi,  yang  dikembangkan  oleh  Hugo


                        Grotius, yang dipengaruhi oleh posisi Belanda yang waktu itu merupakan bangsa

                        pedagang dengan kekuatan laut yang sudah jauh lebih berkurang dari kekuatannya


                        dulu di era keemasannya.Selain itu, negara-negara Eropa yang menyetujui batasan

                        tersebut  memiliki  wilayah  yang  tak  terpisah-pisah,  tipe  kontinental,  yang


                        membuat  mereka  tidak  menyadari  pentingnya  lautan  yang  diantara  pulau-pulau

                        sebagai pemersatu identitas dan bahaya secara strategis terhadap keutuhan bangsa


                        dan  negaranya  akibat  pihak  asing  yang  mampu  dengan  seenaknya  memasuki

                        perairan  wilayah  kepulauan.Tak  heran  kalau  setelah  Indonesia  merdeka,  para

                        pemimpin Indonesia melihat Ordonansi Belanda tersebut, yang dibuat dengan cara


                        pandang kontinental, sangat tidak cocok untuk negara yang berbentuk kepulauan

                        seperti  Indonesia.  Cara  pandang  yang  membatasi  wilayah  territorial  hanya


                        berjarak tiga mil ini sangat merugikan wilayah Indonesia yang berbentuk negara

                        kepulauan  karena  ada  kesan  bahwa  wilayah  Indonesia  itu  terpisah-  pisah  oleh


                        lautan  sehingga  kita  merasa  tidak  mengenal  diantara  sesama  warga  negara

                        Indonesia.


                               Pemerintah  kemudian  berusaha  mengganti  Ordonansi  Belanda  tersebut

                        dengan  menghidupkan  kembali  konsep  strategis  Nusantara,  yang  didasari  oleh


                        kesadaran bahwa wilayah Indonesia yang dipisahkan oleh laut, yang mana kapal-

                        kapal  asing  pun  dengan  bebas  berlayar  diantara  pulau-pulau  Indonesia  dan


                          H.S.K. Kent, “The Historical Origin of the Three-mile Limit,” The American Journal of
                        14
                        International Law Vol. 48, No. 4 (October 1954) 537-553


                                                              32
   206   207   208   209   210   211   212   213   214   215   216