Page 209 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 209
aktif, dalam arti bahwa ia mengerti dan mengantisipasi ancaman-ancaman besar
yang dilihatnya akan datang dari Imperium Mongol-China. Pada saat itu,
Imperium Mongol-China dipimpin oleh Kublai Khan, yang sedang melakukan
ekspansi besar-besaran ke Jepang dan Asia Tenggara. Untuk menghadapi
ancaman Mongol tersebut, Kertanegara melakukan persekutuan politik dan militer
dengan kerajaan-kerajaan lain di Asia Tenggara, misalnya dengan mengawini
12
puteri Champa, sebuah kerajaan yang terletak di Vietnam bagian Selatan. Ia pun
melakukan ekspedisi Pamalayu yang memiliki tujuan untuk menguasai kerajaan
Melayu di Sumatera (Sriwijaya) dan mendominasi jaur perdagangan di Selat
13
Malaka. Walaupun Kertanegara kemudian tewas dan kerajaan Singasari runtuh
akibat diserang oleh Kerajaan Kediri, ide Kertanegara diwarisi oleh kerajaan
penerusnya, yakni Kerajaan Majapahit, yang dibawah pemerintahan Mahapatih
Gajah Mada melakukan ekspansi besar-besaran ke seluruh Nusantara dan
menguasai jalur-jalur perdagangan beras dan rempah-rempah di Asia Tenggara.
Pada saat yang hampir bersamaan, Kubilai Khan wafat. Imperium
Mongol-China tak lagi melakukan ekspansi ke kawasan Asia Tenggara dan
bahkan akhirnya hancur. Setelah hancurnya Imperium Mongol-China, tak ada lagi
ancaman besar yang menimpa Asia Tenggara. Maka dari itu, setelah Majapahit
runtuh, ide Nusantara perlahan-lahan menghilang, karena tak ada laginya ancaman
strategis yang begitu besar. Selain itu juga, tak ada lagi kerajaan penerus yang
kuat seperti Majapahit. Jawa terpecah ke kerajaan-kerajaan kecil yang baru
12 Bernard H. V. Vlekke, Nusantara: Sejarah Indonesia (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia,
2008) 69-71
13 Anthony Reid, “Understanding Melayu (Malay) as a Source of Diverse Modern Identities,”
Journal of Southeast Asian Studies Vol. 32, No. 3 (2001) 297
30

