Page 210 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 210

beberapa abad kemudian dipersatukan kembali oleh Sultan Agung dari Mataram,


                        walau  persatuan  ini  pun  hanya  bersifat  sementara  yang  disebabkan  Mataram

                        sepeninggal  Sultan  Agung,  kembali  dididera  oleh  perang  saudara,  yang


                        menyebabkan Belanda mampu memperbesar pengaruhnya di Jawa, dan kemudian

                        berangsur menjadi penguasa wilayah Indonesia.



                               Belanda  yang  waktu  itu  berada  di  Indonesia  melalui  perusahaan

                        perdagangannya  yakni  Vereenigde  Oost  Indische  Compagnie  (VOC)  pada


                        awalnya  tidak  tertarik  menguasai  seluruh  Indonesia,  selain  daerah-daerah  yang

                        dianggap  penting  untuk  mendukung  perdagangan  rempah-rempahnya,  seperti


                        Maluku  dan  Jawa  namun  semakin  lama,  VOC  dan  kemudian  digantikan  oleh

                        Pemerintah  Hindia  Belanda,  semakin  terlibat  kepada  perpolitikan  kerajaan-


                        kerajaan di Indonesia, dan semakin memperlebar pengaruhnya. Puncaknya adalah

                        dengan  semakin  besar  ancaman  dari  negara  saingannya  seperti  Inggris,  maka


                        Belanda pada akhirnya melakukan ekspansi besar-besaran, yang berujung kepada

                        wilayah Indonesia sekarang ini. Menariknya, Belanda tidak menganggap seluruh


                        lautan diantara pulau-pulau Indonesia sebagai wilayahnya. Hal ini terlihat dalam

                        konsep  Ordonansi  Belanda  tahun  1939,  yang  menekankan  bahwa  perairan

                        territorial  pulau-pulau  Indonesia  hanya  berjarak  tiga  mil  dari  garis  pantai  dasar


                        pada waktu air surut.

                               Pandangan ini sebagian disebabkan oleh norma internasional dan limitasi


                        teknologi pada waktu itu, dimana tiga mil merupakan jarak efektif dari tembakan

                        meriam  dan  akibat  bentuk  bumi  yang  berbentuk  bulat,  hampir  tak  mungkin








                                                              31
   205   206   207   208   209   210   211   212   213   214   215