Page 206 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 206
berkewajiban untuk melindungi daerah di nusantara tersebut untuk menjaga
kestabilan regional, khususnya di bidang sosial-ekonomi. Nagarakartagama
menyebutkan daerah di nusantara tersebut merupakan daerah yang dilindungi oleh
Sri Maharaja Majapahit (dešântara kacaya de šrînarapatî). Kakawin
Nagarakartagama tidak mencerminkan adanya kesan bahwa wilayah nusantara
dan kerajaan lain di kawasan Asia Tenggara, seperti Syañka, Ayodhyapura,
Dharmmânâgarî, Marütma, Râjapura, Sinha-nagari, Cämpa dan Kä merupakan
wilayah kekuasaan atau jajahan Majapahit. Hubungan dengan kerajaan atau
daerah tersebut merupakan hubungan persahabat (mitra-ika satatä)(Näg, XV:1).
Dibawah Raja Majapahit kita menemukan adanya sejumlah penguasa yang
masing-masing berkuasa di sebuah negara daerah atau propinsi dengan kedudukan
sebagai Paduka Bhatara. Hal yang demikian ini dapat memberikan gambaran
kepada kita bahwa Kerajaan Majapahit dilihat dari struktur perwilayahannya
merupakan suatu kerajaan yang terdiri dari kesatuan negara daerah atau propinsi.
Berdasarkan sumber sejarahnya, dapat diketahui jumlah negara daerah yang ada di
Kerajaan Majapahit pada saat itu. Jumlah ini ternyata pada beberapa saat tidak
selalu sama. Dari Prasasti Warininpintu (1447), Serat Pararaton (akhir abad XV)
dan Kakawin Nagarakartagama (1365), kita dapat mengetahui sejumlah negara-
11
negara daerah pada masa tertentu.
Paul Kennedy menulis buku yang berjudul The Rise and Fall of the Great
Powers.Kennedy berargumen bahwa jatuh bangun suatu negara pada dasarnya
merupakan suatu hal yang bersifat alamiah (natural) dan tak terhindarkan
11 Hasan Djafar, Masa Akhir Majapahit, Girindrawarddhana Dan Masalahnya, 2009, Komunitas
Bambu, Maret, Jakarta, hlm 48-49.
27

