Page 50 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 50
5
kesejarahan sendiri. Pertama, mampu membawa peserta didik pada situasi ril di
lingkungannya dan mampu menerobos batas antara dunia sekolah dan dunia nyata di sekitar
sekolah. Dilihat secara sosio-psikologis bisa membawa peserta didik secara langsung
mengenal dan menghayati lingkungan masyarakatnya, dimana mereka merupakan bagian di
dalamnya (Douch, 1967; Mahoney, 1981).
Kedua, pembelajaran sejarah lokal, akan lebih mudah membawa siswa pada usaha
untuk mengenang pengalaman masa lampau masyarakatnya dengan melihat situasi masa kini,
bahkan dapat memproyeksikan peluang dan tantangan pada yang akan datang. Dalam
pembelajaran sejarah lokal peserta didik akan mendapatkan banyak contoh dan pengalaman
dari berbagai tingkat perkembangan lingkungan masyarakatnya, termasuk situasi masa kini.
Dengan demikian, mereka akan lebih mudah menangkap konsep perubahan yang menjadi
kunci penghubung antara masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.
Kalau dihubungkan dengan teori J. Bruner maupun dalam hubungan dengan konsep
pendekatan proses, maka pembelajaran sejarah lokal sangat mendukung prinsip
pengembangan kemampuan peserta didik untuk berpikir aktif, kreatif dan struktural
konseptual. Hampir semua prinsip dalam rangka pembelajaran siswa aktif sangat relevan
dengan kegiatan pembelajaran yang bermuatan sejarah lokal. Sesuai dengan sifat materi serta
sumber sejarah lokal, maka peserta didik akan terdorong untuk menjadi lebih peka
lingkungan, begitu juga mereka akan lebih terdorong mengembangkan keterampilan-
keterampilan khusus seperti: mengobservasi, teknik bertanya atau melakukan wawancara,
mengumpulkan dan menyeleksi sumber, mengadakan klasifikasi serta mengidentifikasi
konsep, bahkan membuat generalisasi, kesemuanya itu mendorong bagi perkembangan
proses belajar bersifat discovery inquiry.
Berdasarkan pemikiran tersebut menunjukkan bahwa tradisi lisan merupakan lambang
identitas daerah/komunitas yang diungkapkan lewat bahasa lisan, tradisi, hukum, sejarah
yang mengandung nilai-nilai luhur yang sangat berharga. Tradisi lisan merupakan suatu aset
kekayaan budaya yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan ajar bagi masyarakat
setempat, sehingga dapat melestarikan nilai dan mengembangkan karakter positif dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Akhirnya tepatlah dikatakan Cobern dan
Aikenhead (2008) bahwa transfer pengetahuan apapun bentuknya, harus mempertimbangkan
latar belakang budaya peserta didik. Sejalan dengan itu Wenger (2004) menyatakan bahwa
dengan mendesksripsikan secara bermakna kepada orang lain (peserta didik) hal-hal atau
pengalaman-pengalaman yang makin menantang, akan mendorong kemampuan peserta didik
untuk mendeskripsikannya.
Tradisi lisan komunitas bahari, juga memiliki keempat fungsi tersebut, sehingga tradisi
lisan di satu sisi dapat digunakan sebagai media pembelajaran dan di sisi lain dapat
digunakan sebagai sumber/materi pembelajaran. Fungsi tradisi lisan komunitas bahari akan
dapat mengubah manusia terutama generasi muda ke masa depan yang lebih cerah apabila
diamanatkan dalam proses pembelajaran baik dalam pendidikan formal, nonformal, dan
informal. Dengan demikian perlu integrasi tradisi lisan masyarakat bahari ke dalam
pembelajaran baik sebagai media pendidikan maupun sebagai sumber belajar.
Menurut Sibarani (2013) folklor termasuk yang lisan/tradisi lisan dapat digunakan
sebagai media pendidikan untuk menyampaikan pelajaran kepada siswa guna mempermudah
pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan individu untuk terlibat dalam proses pembelajaran.
Selain itu, tradisi lisan juga dapat berfungsi sebagai salah satu langkah dalam melestarikan
budaya lokal yang ada. Hal ini dirasakan perlu pada saat sekarang ini karena banyak dari
generasi muda sudah melupakan budaya yang merupakan warisan leluhur nenek moyang dan
kebanggaan identitasnya.
Dalam kondisi tersebut, maka peran guru sangat penting untuk mendisain
pembelajaran dalam aspek: materi, metode, dan media pembelajaran. Guru IPS/Sejarah tidak

