Page 111 - Menabung_Ebook
P. 111

Sejak peralihan  kekuasaan  tersebut, Hindia  Timur  disebut  sebagai  Hindia  Belanda
               (Nederland  Indie)  dan  diperintah  oleh  Komisaris  Jenderal  (1815―1819)  yang  terdiri
               atas C.T. Elout, van der Capellen, dan Muntinghe. Tidak lama kemudian Elout digantikan
               oleh Buyskes. Ketiganya menjalankan pemerintahan berdasarkan Regerings Reglement
               Januari 1815  yang memberikan beberapa tugas pokok, antara lain, adalah  perbaikan
               nasib rakyat dan perlunya mendorong kebebasan bercocok tanam dan persiapan untuk
               melakukan pungutan pajak tanah. Akhirnya, salah seorang dari tiga komisaris tersebut,
               yaitu van der Capellen, diangkat sebagai Gubernur Jenderal pada 16 Januari 1819 dan
               memerintah hingga 1826. Dalam masa pemerintahannya, didirikanlah perusahaan dagang
               Nederlandsche Handels Maatschappij (NHM) yang diprakarsai oleh Raja Willem I pada                  Menabung Membangun Bangsa
               28 Maret 1824. Perusahaan ini dimaksudkan untuk memperkuat daya saing perdagangan
               Belanda  menghadapi  Inggris dan  memperlancar jalannya perdagangan  antara negeri
               Belanda dan Hindia Belanda.

                    Pemerintahan van der Capellen tidak dapat dikatakan berhasil karena pemerintah
               kolonial  yang  ia  pimpin  terbukti  merugi  dan  harus  meminta  pinjaman  kepada  negeri
               Belanda yang merasa terus terbebani oleh koloni  sejak  keruntuhan  VOC. Untuk
               menggantikan posisi van der Capellen, Raja Willem I mengangkat Leonard Pierre Joseph
               Burgraaf Du Bus de Gisignies sebagai Komisaris Jenderal pada tahun 1826 hingga 1830.
               Pada  periode  kekuasaanya, untuk pertama kali  pemerintah  kolonial  mulai  menggagas
               pembentukan bank sirkulasi atau bank sentral.




               2. De Javasche Bank


               Adanya kesulitan keuangan di Hindia Belanda memerlukan penertiban dan pengaturan
               sistem  pembayaran di  Hindia  Belanda.  Di  Kerajaan  Belanda  hal  itu  menimbulkan
               munculnya gagasan pendirian bank sirkulasi untuk Hindia Belanda, tepatnya menjelang
               keberangkatan Komisaris Jenderal Hindia Belanda Mr. C. T. Elout ke Hindia Belanda, pada
               saat upacara penyerahan kembali Hindia Belanda dari Inggris pada tahun 1816. Demikian
               halnya di Batavia, Hindia Belanda, muncul desakan kuat dari kalangan pengusaha agar
               segera  didirikan  lembaga  bank  guna  memenuhi  kepentingan  bisnis  mereka,  terutama
               untuk fasilitas pendanaan dan perdagangan luar negeri.


                   Sebagai  tindak  lanjut  dari  gagasan  1816,  pada  29  Desember  1826  Raja  Willem  I       101
               mengirimkan Surat Kuasa No. 85 kepada Komisaris Jenderal Hindia Belanda untuk segera
               merundingkan dengan Pemerintah Hindia Belanda tentang pembentukan suatu bank di
               Jawa berdasarkan Oktroi, yaitu pemberian wewenang dan hak tunggal dari Pemerintah
               dengan  jangka waktu.  Surat kuasa  Raja Willem  tersebut berdasarkan  laporan  rahasia
               Menteri Kelautan dan Tanah Jajahan yang diberi tugas olehnya untuk mengajukan konsep
               suatu  Oktroi  dan  ketentuan-ketentuan  bagi  suatu  bank yang  akan  didirikan  di  Jawa.
               Maka, dalam surat kuasa tersebut Raja Willem menguasakan kepada Menteri Kelautan
               dan Tanah Jajahan untuk menyampaikan Surat Kuasa tersebut kepada Komisaris Jenderal
   106   107   108   109   110   111   112   113   114   115   116