Page 211 - Perdana Menteri RI Final
P. 211

dengan  KNIP  dinamakan  Majelis  Perubahan   Dalam Negeri RIS yang masih dipegang   dari wilayah negara kesatuan dan mengadakan   Kesatuan Republik Indonesia. Pada hari yang
 Undang-Undang Dasar yang mempunyai hak   oleh  orang  Belanda  agar  diserahkan pada   sidang DPR NKRI pada tanggal 17 Agustus   sama, Presiden Sukarno mengesahkan Undang-

 mengadakan perubahan dalam undang-undang   pimpinan Bangsa Indonesia agar kesepakatan   1950 untuk memajukan calon Kabinet Formatur.   undang tersebut menjadi UUD Sementara
                                                                  147
 baru; konstituante berasal dari anggota yang   antar kedua pemerintah RI-RIS dapat tercapai   Dalam bagian ini asas kenegaraan diselaraskan   RI.  Setelah rancangan undang-undang dasar
 138
 dipilih melalui pemilu; menetapkan Sukarno   dengan baik.  Pemerintah berupaya untuk   kembali pada asas proklamasi kemerdekaan   sementara disetujui dan disahkan oleh DPRS dan
 sebagai presiden; Dewan Menteri bersifat   mencari jalan keluar terkait konsepsi penyatuan   17 Agustus 1945. Dengan demikian beberapa   Senat serta Badan Pekerja KNIP, pada tanggal
 139
 parelementer; Jabatan wakil presiden akan   kementrian penerangan antara RI dan RIS.    konsepsi awal mengenai  nama  Republik   15  Agustus  1950  Sukarno  memproklamirkan
 dibicarakan lebih lanjut;  Dewan  Pertimbangan   Disamping itu, jumlah provinsi juga menjadi   Indonesia tetap dipertahankan. Sedangkan hal   berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia
 Agung dihapuskan. Pembentukan kepanitiaan   bahan pertimbangan dalam Pemerintahan   yang berhubungan dengan kedaulatan di tangan   yang terdiri dari seluruh wilayah kesatuan
 lebih lanjut dilakukan secepatnya, kepanitiaan   Dalam Negeri. 140  rakyat, batas negara dan kewarganegaraan   Indonesia. pada tanggal yang sama, Presiden

 RIS  pada  DPR  dan  Senat,  Kepanitiaan   juga selanjutnya diatur dalam perundang-  menuju Yogyakarta untuk membubarkan negara
 Dalam  proses konsepsi  kesatuan  terdapat
 pemerintah RI pada Badan Pekerja- KNIP. 136  undangan. 144    Republik. 148
 perbedaan pendapat dalam perundingan RI-RIS.
 Pemerintah Federal menggunakan pasal 54   Mangunsarkoro sebagai delegasi RI mengusulkan   PM Halim dan PM Hatta melakukan pertemuan   Setelah UUD Sementara Negara Kesatuan
 konstitusi RIS dengan mengangkat komisaris-  agar Yogyakarta menjadi ibukota negara   tidak resmi untuk membahas penyusunan UUD   diterima, Hatta menyerahkan mandatnya pada
 komisaris RIS untuk negara-negara bagian untuk   kesatuan. Sebaliknya, pihak RIS menghendaki   Negara Kesatuan, sehingga proses penyusunan   presiden, maka sejak saat itulah kabinet RIS

 menyelenggarakan seluruh tugas pemerintah   Jakarta untuk menjadi Ibukota Negara. Bentuk   tidak mendapatkan hambatan yang berarti jika   demisioner. Sementara itu, kabinet Halim
 negara bagian. Namun dikatakan bahwa   pemerintahan dalam undang-undang juga   dibandingkan dengan proses pengesahan yang   di Yogyakarta juga menyerahkan mandatnya
 bukan hal inilah yang dikehendaki oleh rakyat,   diusulkan menjadi bentuk parlementer, dari   banyak menghadapi perlawanan dari kubu   pada Presiden dan  Acting President, Mr.Assaat.
                      145
 sehingga tidak mendorong keadaan keamanan   pihak RIS mengusulkan bahwa perlu diberikan   oposisi.  Pengesahan UUDS Negara Kesatuan   Kabinet Halim telah mencapai tujuan utama
 menjadi lebih baik. Natsir dkk. mengajukan   opsi  bentuk  pemerintahan  presidensiil. Paling   mendapat tentangan dari partai-partai kiri   dari  pemerintahan;  yaitu  pembentukkan
 amandemen dalam parlemen yang dapat diterima   penting dikatakan oleh Mangunsarkoro adalah   seperti PKI, Murba, Partai Buruh, dan partai   negara kesatuan. Dalam hal ini, pemerintahan
                          146
 141
 oleh pemerintah dan parlemen. Sehingga mulai   penyusunan program politik.    kiri lainnya.  Faksi nasionalis kiri merasa bahwa   Halim dapat dianggap merupakan salah satu
 disiapkan  perundingan-perundingan  antara   kekuasaan pemerintah telah  dimonopoli  oleh   pemerintahan parlementer periode ini yang
 Konferensi kembali diadakan antara RI dan
 pemerintah RI dan RIS tentang pembentukan   kalangan sosialis  kanan  dari partai  Masyumi   telah berhasil mencapai tujuan yang telah
 RIS yang berlangsung pada 19 Juli 1950. Dalam
 negara kesatuan RI. Terdapat cara baru untuk   dan PSI. Mereka menempatkan dirinya sebagai   dicanangkannya. Assaat menyatakan bahwa
 konferensi tersebut dibicarakan mengenai rencana
 melakukan peleburan dalam Negara Kesatuan   oposisi pemerintah dan sehingga menolak   Ketua, Wakil Ketua dan anggota BP KNIP
 Undang-Undang Dasar Sementara Negara
 RI. Pertama, pencabutan pasal yang federalistis   banyak kebijakan yang diambil oleh Hatta.   dan DPA dari Republik Indonesia Yogyakarta
 Kesatuan Republik Indonesia. Kemudian rencana
 dalam konstitusi RIS. Kedua, RI dilebur dalam                 akan masuk menjadi anggota DPR sementara
 undang-undang tersebut akan disampaikan pada   Namun demikian, Undang-undang Dasar
 RIS sehingga tidak ada lagi negara bagian.                    negara kesatuan. Meskipun demikian, kedua
 142
 DPR  dan  Senat  serta  Badan  Pekerja  KNIP.    Sementara Negara Kesatuan diselesaikan pada
 Ketiga, Negara kesatuan dibentuk melalui                      kabinet tersebut terus melanjutkan tugasnya
 Halim menyatakan bahwa pemerintah RI   20 Juli 1950. Undang-undang tersebut telah
 Republik Indonesia – Yogyakarta. Kesepakatan                  sampai dengan terbentuknya kabinet baru pada
 dan RIS akan saling melengkapi dan bertukar   mencapai kesepakatan dengan melalui proses
 untuk mengubah konstitusi RIS dari federal                    6 September 1950 dengan Perdana Menteri
 argumen untuk mencapai kesepakatan bersama.   perundingan pada 14 Agustus 1950. Sehari
 menjadi persatuan didasarkan pada persetujuan                 Mohammad Natsir dari Masyumi.  149
 Beberapa kesepakatan yang ada dalam konferensi   setelah kesepakatan tersebut, pada tanggal 15
 pada tanggal 19 Mei 1950.  137
 ini diantaranya adalah terkait keanggotaan DPR;   Agustus 1950 diadakan rapat gabungan terakhir   Halim  tidak  ingin melibatkan diri dalam
 Setelah kesepakatan 19 Mei, Pihak RI   Pembagian daerah berdasarkan proklamasi   antara RI dan RIS sekaligus membicarakan   pemerintahan baru. Ia bahkan sudah berencana
 143
 menginginkan agar  pimpinan Kementerian   1945, yakni 10 provinsi  yang menjadi bagian   tentang piagam pernyataan terbentuknya Negara   pergi keluar negeri untuk plesiran setelah




 198  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  199
   206   207   208   209   210   211   212   213   214   215   216